PERKEBUNAN INDONESIA – Meningkatnya panen atau produksi kopi menjadi harapan para petani. Karena pendapatan petani akan meningkat. Lantas bagaimana cara meningkatkan panen kopi secara tepat? Simak hasi risetnya.
Rendahnya produktivitas kopi petani di di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, ini menjadi alasan dilakukan riset mengingat komoditas kopi merupakan salah satu sumber pendapatan bagi petani. Produktivitas kopi rata-rata sekitar 700 kg/ha/tahun (BPS, 2016).
Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BTTP), salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi setempat karena petani belum memahami cara meningkatkan panen kopi yang tepat.
Selain itu, petani juga masih mengandalkan klon lokal dan belum menggunakan klon unggul. Tak heran jika produktivitas kopi tidak maksimal sehingga berujung pada kurangnya pemeliharaan tanaman kopi.
Di samping itu, petani juga hanya mengurus kebun kopi pada saat panen selama kurun waktu sekitar 3 bulan yaitu sejak bulan April sampai dengan Juni setiap tahunnya. Alasannya kopi belum dijadikan sebagai sumber pendapatan utama.
Dalam penelusuran BPTP, selama setahun rata-rata petani hanya mendapatkan penerimaan sekitar 12 juta rupiah dari satu hektar kebun kopi. Jika dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan, penerimaan dari hasil panen juga semakin kecil. Apalagi harga beras kopi (green bean) di tingkat petani hanya sekitar Rp 17.000/kg.
Karena itulah, dalam pasca panen BTTP Bengkulu pun telah merekomendasikan kepada petani kopi setempat untuk mengubah cara panen dari petik pelangi ke petik merah pada saat penen.
“Saat ini petani telah mampu menghasilkan biji kopi petik merah secara kontinyu dan hasilnya mulai dijual kepada pedagang di Bengkulu maupun di luar provinsi,” sebut tim peneliti BPTP.
Inovasi teknologi petik merah diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kopi dan pendapatan petani secara berkelanjutan. Di samping dapat meningkatkan produksi juga meningkatkan mutu kopi yang dihasilkan.
Menurut peneliti, keuntungan yang diperoleh dari pengolahan kopi petik merah menjadi beras kopi sebesar Rp.16.214/kg lebih tinggi 2,5 kali lipat dibandingkan dengan petik pelangi yang keuntungannya sebesar Rp. 6.478/kg.
“Pengolahan kopi panen petik merah meningkatkan biaya produksi sebesar Rp 7.264/kg dibandingkan dengan petik pelangi. Namun keuntungan yang diperoleh juga lebih tinggi yaitu sebesar Rp 9.736/kg,” ungkap peneliti.
Ada tiga keuntungan panen petik dibandingkan dengan petik pelangi. Pertama, proses pasca panen dari biji kopi sampai dengan beras kopi lebih cepat yaitu hanya membutuhkan waktu sekitar 7 hari dari waktu petik sampai selesai penjemuran.
Kedua, panen petik merah lebih menguntungkan. Nilai MBCR panen kopi petik merah sebesar 2,55 dibandingkan dengan petik pelangi. Hal ini berarti bahwa setiap penambahan 1 rupiah biaya panen dan pasca panen, petani mendapatkan keuntungan 2,55 rupiah.
Ketiga, panen petik merah memiliki produktivitas hasil lebih tinggi dibandingkan dengan petik pelangi. Berdasarkan hasil penimbangan rata rata, berat 100 biji kopi petik merah adalah 167,06 gr, sedangkan petik pelangi 137,43 gr. (far)




