a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result

Kejar Produktivitas Sawit Rakyat, BPDP dan Ditjenbun Latih Pekebun Musi Banyuasin

24 Juni 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PALEMBANG — Upaya meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat terus dilakukan pemerintah. Salah satu caranya melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) pekebun. Sebanyak 38 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit yang digelar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB).

Pelatihan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026, angkatan I itu digelar di Palembang pada 22 Juni 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas sawit rakyat yang hingga kini masih berada di bawah potensi optimal.

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pelatihan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis peserta, tetapi juga membangun pola pikir pekebun agar mampu mengelola usaha perkebunan secara profesional dan berkelanjutan.

“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” kata Andi saat membuka kegiatan.

Menurut dia, PT SIB selama enam tahun terakhir dipercaya oleh Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPDP untuk melaksanakan berbagai program peningkatan kapasitas SDM perkebunan di sejumlah daerah sentra sawit.

Selama pelatihan, peserta akan mendapatkan materi berbasis pedoman teknis yang telah ditetapkan pemerintah. Metode pembelajaran mencakup sesi kelas, diskusi kelompok, praktik lapangan, hingga kunjungan lapang untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi budidaya.

Salah satu agenda penting adalah kunjungan ke Koperasi Rukun Amanah Sejahtera di Kabupaten Banyuasin. Koperasi tersebut dipilih karena telah memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan dinilai berhasil menerapkan praktik budidaya yang baik serta tata kelola kelembagaan pekebun yang efektif.

Melalui kunjungan tersebut, peserta diharapkan dapat melihat langsung penerapan standar keberlanjutan di tingkat lapangan sekaligus memahami proses menuju sertifikasi ISPO.

“Peserta akan belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga dari praktik yang sudah berhasil diterapkan oleh pekebun yang telah tersertifikasi,” ujar Andi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Direktorat Jenderal Perkebunan, Mula Putra, mengatakan produktivitas masih menjadi tantangan utama perkebunan sawit rakyat Indonesia.

Menurut dia, produktivitas kebun rakyat saat ini rata-rata baru mencapai 3,3 hingga 3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun. Padahal, potensi produktivitas sebenarnya dapat mencapai 5 hingga 6 ton per hektare per tahun.

“Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” kata Mula.

Rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penggunaan benih yang kurang unggul, penerapan teknik budidaya yang belum sesuai standar, hingga pemeliharaan tanaman yang belum optimal.

Untuk mengatasinya, pemerintah menjalankan sejumlah program strategis, antara lain Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana perkebunan, serta penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pendampingan.

Mula menegaskan bahwa pengembangan SDM kini menjadi salah satu instrumen penting dalam pembangunan perkebunan nasional. Selain untuk komoditas sawit, program serupa juga diterapkan pada komoditas strategis lain seperti kelapa dan kakao.

Menurut dia, peningkatan kapasitas pekebun dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, penguatan soft skill berupa kelembagaan, kepemimpinan kelompok tani, dan kemampuan membangun kemitraan. Kedua, peningkatan hard skill melalui pelatihan teknis budidaya, panen dan pascapanen, implementasi ISPO, hingga pengelolaan sarana dan prasarana perkebunan.

Mula juga mengingatkan bahwa penerapan standar keberlanjutan melalui ISPO kini menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Tuntutan pasar global terhadap produk sawit berkelanjutan terus meningkat, sehingga pekebun perlu mempersiapkan diri sejak dini.

“Pelatihan ini bukan hanya soal meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah mindset agar prinsip-prinsip keberlanjutan benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kebun,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra, menilai pelatihan tersebut memiliki arti strategis bagi daerah yang merupakan salah satu sentra produksi sawit terbesar di Indonesia.

Ia menyebut Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir sebagai wilayah penopang utama produksi sawit Sumatera Selatan. Karena itu, peningkatan kualitas SDM pekebun menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing sektor perkebunan di daerah.

Menurut Dian, pelatihan kali ini juga memperlihatkan tingginya partisipasi generasi muda. Kehadiran petani muda menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan industri sawit nasional.

“Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” katanya.

Ia menilai regenerasi pekebun akan mempercepat adopsi teknologi, inovasi, dan praktik budidaya yang lebih modern. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan keberlanjutan, keberadaan SDM yang kompeten menjadi fondasi utama agar perkebunan sawit rakyat mampu berkembang sekaligus memenuhi tuntutan pasar global.

 

 

Tags: SDM

Related Posts

BPDP Dukung Ekosistem Kelapa dari Hulu hingga Hilir

BPDP Dukung Ekosistem Kelapa dari Hulu hingga Hilir

21 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendukung pengembangan ekosistem kelapa Indonesia secara menyeluruh, mulai dari sektor...

GAPKI Gelar IPOC 2026 Perkuat Peran Sawit

GAPKI Gelar IPOC 2026 Perkuat Peran Sawit

9 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kembali menggelar The 22nd Indonesian Palm Oil Conference and...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Swasembada Pangan Tercapai, Penerimaan Bea Masuk Sektor Pangan Anjlok

BPS Sebut Sektor Pertanian Berkontribusi 12,6 Persen

7 Mei 2026
Kementan Bersama Pemprov Sulel Dorong Percepatan Hilirisasi Perkebunan

Kementan Bersama Pemprov Sulsel Dorong Percepatan Hilirisasi Perkebunan

16 Oktober 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.