PERKEBUNAN INDONESIA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada sarana diesel sejak 1 Juli 2026.
Penerapan tersebut mencakup lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui rangkaian pengujian teknis, pemantauan komponen, serta penguatan aspek keselamatan dan keandalan operasional.
“Setiap tahap kami persiapkan melalui pengujian teknis dan evaluasi operasional agar transisi energi tetap berjalan selaras dengan keselamatan perjalanan serta keandalan sarana,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dikutip Jumat (17/7/2026).
Lebih lanjut Anne mengatakan, penerapan B50 merupakan bentuk dukungan KAI terhadap kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya dalam negeri.
B50 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen bahan bakar solar. Peningkatan bauran biodiesel memperbesar pemanfaatan energi terbarukan domestik, mengurangi kebutuhan solar berbasis fosil, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Dari sisi lingkungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan implementasi B50 secara nasional dapat mendukung penurunan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan penurunan emisi melalui penerapan B40 yang mencapai 39,66 juta ton.
Kesiapan pada sektor perkeretaapian dibangun melalui uji penggunaan B50 pada mesin diesel kereta pembangkit dan lokomotif. Pengujian mencakup performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi, kondisi filter, pelumas, serta komponen pada sistem bahan bakar.
Uji pada kereta pembangkit dilakukan untuk memastikan genset mampu menjaga pasokan listrik selama perjalanan. Sementara itu, pengujian lokomotif diarahkan untuk melihat respons mesin terhadap karakteristik operasi kereta api dengan beban dan waktu pengoperasian yang beragam.
“Pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kualitas bahan bakar, kondisi mesin, filter, hingga pola perawatan. Evaluasi akan terus dilaksanakan agar penerapan B50 dapat mendukung operasional kereta api secara aman, andal, dan terukur,” kata Anne.
Pengalaman KAI menggunakan biodiesel pada tahapan sebelumnya, mulai dari B35 hingga B40, turut menjadi referensi dalam memasuki penerapan B50.
Setiap peningkatan kadar biodiesel diikuti dengan penyesuaian prosedur pemeriksaan, pemeliharaan, pengelolaan bahan bakar, serta kompetensi pekerja yang menangani sarana diesel.
Sejalan dengan penerapan energi yang lebih berkelanjutan pada sarana, KAI juga memperkuat kontribusinya dalam menjaga distribusi energi nasional melalui layanan logistik berbasis kereta api.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, KAI melayani distribusi sebanyak 1.338.180 ton BBM, meningkat 4,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 1.278.621 ton. Komoditas tersebut mencakup beragam jenis bahan bakar yang dibutuhkan masyarakat dan sektor strategis nasional. (gar)




