PERKEBUNAN INDONESIA – Hilirisasi kelapa sawit terus didorong agar nilai tambahnya semakin besar. Ekspor minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya tumbuh 5,49 persen sepanjang Januari – Juli 2026.
“Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Mentan Amran, Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat posisi sawit di pasar dunia karena merupakan salah satu produsen sawit terbesar.
“Karena itu, peningkatan produksi harus dibarengi dengan hilirisasi agar ekspor tidak hanya bertumpu pada bahan mentah,” tukas Amran.
Lebih lanjut Amran mengatakan, pertumbuhan ekspor tersebut tidak terlepas dari upaya pemerintah memperkuat sektor sawit dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan produktivitas perkebunan, peremajaan tanaman dan penggunaan benih unggul hingga pengembangan industri pengolahan.
Langkah tersebut terus didorong untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperbesar nilai tambah komoditas sawit di dalam negeri.
Mentan Amran mengatakan, pertumbuhan ekspor tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industri pengolahan berbasis pertanian.
Menurut Amran, semakin banyak komoditas yang diolah di dalam negeri, semakin besar pula peluang menciptakan nilai tambah sebelum produk memasuki pasar internasional.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong. Jadi dari hulu sampai hilir harus kuat,” kata Amran.
Untuk memperkuat sektor sawit, pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul dan perbaikan budidaya.
Penguatan di tingkat hulu tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan industri pengolahan di tingkat hilir agar produk pertanian Indonesia semakin kompetitif.
Mentan Amran menegaskan penguatan ekspor pada akhirnya harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi pelaku usaha di sektor pertanian, khususnya petani dan pekebun.
“Pertanian harus menghasilkan, harus memberikan nilai tambah. Kita ingin produk pertanian Indonesia semakin banyak masuk pasar dunia dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani,” tegasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sepanjang Januari – Juli 2026, nilai ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
“Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, dan juga logam dan mineral,” ujar Ateng.
Penguatan ekspor minyak sawit juga tercermin pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati atau HS15 yang menjadi salah satu komoditas pendorong ekspor nonmigas. (sat)




