MADIUN, perkebunanindonesia.com – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dwi Susilaningsih, memaparkan hasil riset pemanfaatan mikroalga sianobakteria seperti Arthrospira maxima dan Jaaginema sp. sebagai agen pembenah tanah alami.
Menurut Dwi, teknologi ini telah diuji pada berbagai jenis lahan marginal dan karst yang memiliki kandungan kapur tinggi dan porositas besar, termasuk pada lahan kakao di Blora.
Dwi mengatakan, formulasi konsorsium mikroalga cair yang kami kembangkan mampu meningkatkan kandungan nitrogen, fosfat total, dan karbon organik dalam tanah.
“Hal ini berdampak langsung pada peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman, termasuk kakao,” jelas Dwi berdasarkan hasil uji lapangan tahun 2018–2020.
Dwi menekankan bahwa pendekatan kimiawi yang selama ini digunakan oleh petani tidak berkelanjutan.
Menurut Dwi, pestisida kimia memang cepat, tetapi berdampak buruk pada tanah, mikroorganisme baik, dan bahkan menyebabkan resistensi hama.
“Dengan pendekatan hayati seperti feromon atau mikroba antagonis, kita bisa menjaga keberlanjutan ekosistem kebun,” ungkap Dwi.
Ketua Kelompok Tani Mina Padi Desa Bagi, Madiun, Harry Okto Abriyanto, mengatakan bahwa pemanfaatan mikroalga yang dikenalkan melalui pelatihan ini sangat membuka wawasan para petani.
‘’Kami tidak menyangka mikroorganisme seperti itu bisa membantu memperbaiki kesuburan tanah tanaman kakao,” ujar Harry.
Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur menjadi salah satu sentra penghasil kakao rakyat di Madiun.
Wilayah tersebut saat ini tengah menghadapi tantangan berupa penurunan kesuburan tanah serta tingginya serangan hama dan penyakit tanaman.
Oleh karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan Usaha Mikro Kecil Menengah menyelenggarakan pelatihan bertema Aplikasi Pembenah Tanah Berbasis Mikroba untuk Tanaman Kakao dan Penanggulangan Hama dan Penyakit Kakao, Selasa (13/5/2025).
“BRIN berharap petani kakao di Madiun dapat mengoptimalkan peran mikroba tanah untuk memulihkan kesuburan secara alami,” ujar Analis Kebijakan Ahli Madya BRIN, Wihatmoko Waskitoaji.
Selain itu, tambah Wihatmoko, petanj juga dapat menerapkan teknik pengendalian hama berbasis hayati yang lebih sehat dan ramah lingkungan, serta menumbuhkan kemandirian teknologi tani berbasis riset dan inovasi. (far)




