PERKEBUNAN INDONESIA – China disebut berminat membeli kredit karbon dari transformasi industri sawit Indonesia, dengan potensi nilai mendekati USD 700 juta per tahun.
Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga saat dirinya mempresentasikan konsep perubahan teknologi pengolahan sawit yang diklaim mampu menurunkan emisi karbon hingga 78 persen.
“Jadi itulah yang dipertanyakan China, dan China ingin membeli karbon trading dari penurunan itu,” ujar Sahat dalam acara Buka Puasa dan Bincang Santai di Rusty Rabbit Cafe & Resto Karet Kuningan, Jakarta, Selatan, Rabu (25/2/2026).
Sahat mengatakan, angka potensi penurunan emisi 45,3 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun muncul dari perhitungan yang dibuat setelah pihak China menanyakan volume karbon yang dapat diperoleh.
“Kalau kita ubah teknologinya, minimal emisi karbon bisa turun 78 persen. Dari perhitungan saya, potensi penurunannya sekitar 45,3 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun,” jelas Sahat.
Dengan asumsi harga karbon USD 15 per ton, nilai perdagangan karbon berpotensi mencapai hampir USD 700 juta per tahun. “Jadi 45,2 juta kali 15 dolar, hampir 700 juta dolar hanya dari trading karbon,” tambah Sahat.
Lebih lanjut Sahat menjelaskan, paper tersebut kemudian diterjemahkan ke bahasa Mandarin, dan pada 2024 ia menerima undangan dari pihak China. “We interested to purchase your carbon,” kata Sahat menirukan pihak China.
Terkait dana yang diperlukan, lanjut Sahat, replanting 2,5 juta hektare kebun rakyat akan menelan biaya sekitar Rp171 triliun selama tujuh tahun. Biaya modernisasi mesin diperkirakan mencapai Rp141 triliun, sehingga total investasi yang diperlukan adalah Rp345 triliun.
Menurut Sahat, bagi China uang 350 triliun itu tidak artinya. “Okay, we can manage that. Provided, we have the rights to buy this good quality oil,” katanya.
Meski begitu, Sahat menegaskan, hak pembelian minyak sawit berkualitas tetap merupakan kewenangan pemerintah. (yer)




