PERKEBUNAN INDONESIA – Guna memastikan standar mutu teh yang presisi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembangkan inovasi pengunderaan nirkabel berbasis teknologi “Metasurface”.
“Teknologi ini memungkinkan pemantauan kadar air daun teh secara real- time tanpa harus menyentuh atau merusak objek, menjamin konsistensi mutu produk agro lokal secara efektif dan efisien,” ungkap ujar Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ashif Aminulloh Fathnan, seperti dikutip brin.go.id, Sabtu (6/06/2026).
Lebih lanjut Ashif mengatakan, kualitas aroma dan rasa teh sangat ditentukan oleh akurasi pada tahap pengeringan atau pelayuan daun pasca panen.
Guna memastikan proses ini berjalan presisi, inovasi penginderaan nirkabel berbasis teknologi “Metasurface” kini dikembangkan untuk sektor pertanian.
“Metasurface adalah struktur material buatan yang dirancang khusus untuk memanipulasi gelombang elektromagnetik secara presisi,” jelas Ashif.
Menurut Ashif, pengembangan teknologi ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong transformasi industri pertanian Indonesia menuju era Industri 4.0.
Melalui pemanfaatan material buatan metasurface, kelemahan estimasi manual dalam tahap produksi di pabrik teh kini dapat di atasi.
“Dalam aplikasi pertanian, metasurface dapat dimanfaatkan sebagai elemen dalam sistem penginderaan untuk meningkatkan sensitivitas secara nirkabel,” ujar Ashif.
Ashif menjelaskan bahwa alat ini bekerja dengan memantau perubahan kadar air selama proses pengolahan teh. Saat diterapkan di pabrik, sensor metasurface cukup ditempatkan di dekat hamparan daun teh yang sedang dikeringkan.
Ketika kandungan air pada daun teh berubah, karakteristik pantulan gelombang elektromagnetik dari metasurface juga akan berubah secara otomatis.
Perubahan tersebut kemudian dibaca oleh sistem untuk mengukur kadar air secara real-time. Pemantauan presisi ini dinilai sangat penting, khususnya pada tahap pelayuan. Tahapan ini merupakan fase yang paling menentukan kualitas akhir dari aroma dan rasa teh.
“Dengan sensor berbasis metasurface, operator pabrik dapat mengetahui secara pasti kapan daun teh mencapai persentase layu yang paling optimal,” terang Ashif.
“Manfaatnya adalah mencegah terjadinya teh yang terlalu kering atau kurang layu akibat estimasi manual yang kurang akurat. Teknologi ini bisa menjamin standarisasi dan konsistensi mutu teh produksi pabrik,” tambah Ashif.
Nilai kebaruan dan keunggulan utama dari teknologi metasurface ini terletak pada metode pengukurannya yang bersifat non-destructive dan contactless testing.
Berbeda dengan sensor kadar air konvensional, daun teh yang sedang diproduksi tidak perlu disentuh langsung atau dirusak oleh alat ukur.
Konfigurasi nirkabel ini membuat prosedur di industri menjadi jauh lebih sederhana, cepat, dan tidak mengganggu alur produksi yang sedang berjalan.
Ashif mengungkapkan bahwa teknologi metasurface untuk aplikasi pertanian ini sebelumnya telah melewati tahap validasi.
Proses validasi tersebut dilakukan melalui proyek kerja sama riset internasional dengan UNSW Australia dalam skema IEIF ASEAN Research Collaboration yang didanai oleh the Australian Government Department of Education. Saat ini, riset tersebut terus disempurnakan.
“Kolaborasi lanjutan saat ini masih berlangsung dengan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) milik PT Perkebunan Nusantara. Kegiatan riset tersebut didukung oleh pendanaan dari Rumah Program Internet of Things (IoT),” kata Ashif.
BRIN merencanakan scale-up prototipe sensor metasurface ini untuk dapat diintegrasikan ke produksi pabrik teh dan menjadi perangkat komersial yang terjangkau bagi industri agro lokal.
“Selain itu, kami terus mengembangkan sensor berbasis metasurface lainnya untuk mendorong transformasi pertanian Indonesia,” kata Ashif. (far)




