Perkebunanindonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembangkan model pasok minyak jelantah untuk biofuel, terutama untuk penggunaan biodiesel dan bioavtur yang berkelanjutan.
“Pengembangan model ini bertujuan mendukung pembangunan rendah karbon di Indonesia,” ujar Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PR EPS) BRIN Julian Witjaksono dalam rangkaian Pareto 2025, dikutip Rabu (13/8/2025).
Julian menyampaikan rancang bangun model rantai pasok minyak jelantah untuk biodiesel dan bioavtur yang berkelanjutan.
Usulan itu, kata Julian, menjadi rekomendasi kebijakan perbaikan tata kelola minyak jelantah sebagai bahan baku (second feedstock) untuk biodiesel dan bioavtur.
Menurut Julian, peran dan keterlibatan stakeholder dalam sistem rantai pasok minyak jelantah akan menjadi pola dalam pemetaan rantai pasok. Hal ini untuk perbaikan tata kelola minyak jelantah dalam pemanfaatannya sebagai biodiesel dan bioavtur.
“Konstruksi modelnya adalah konsep sustainability (keberlanjutan) berdasarkan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan dan teknologi/ infrastruktur). Setiap dimensi terdiri dari beberapa variabel sebagai pilar atau faktor atau komponen penyusun model,” jelas Julian.
Julian juga menyebutkan terdapat nilai strategis dan potensi pengguna. Di antaranya peningkatan pendapatan rumah tangga, mengurangi pencemaran limbah, sumber bahan baku energi baru terbarukan (EBT).
Selain itu, tambah Julian, nilai strategis itu mengurangi jejak karbon atau pengembangan energi bersih, ekspor bioavtur dan biodiesel dari minyak jelantah, dan menciptakan kemandirian ekonomi bangsa melalui kemandirian energi.
Peneliti BRIN Didit Octa Pribadi menyoroti di mana minyak jelantah saat ini menjadi produk yang mulai diperdagangkan dan mempunyai nilai ekonomi.
Menurut Didit, moratorium terkait ekspor minyak jelantah itu cukup berdampak. Ada inisiatif dari pangsa pasar.
“Artinya, bisa dipahami bahwa pemerintah cukup baik membangun pemanfaatan minyak jelantah dan juga bioreaktor, serta lainnya,” ujar Didit.
Sebelumnya BRIN juga menyatakan, minyak jelantah merupakan limbah bernilai tinggi apabila dikelola dengan baik.
Sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF), minyak jelantah dapat memberikan kontribusi terhadap transisi menuju energi hijau serta membuka peluang ekonomi, baik pada tingkat lokal maupun global. (far)





Comments 1