PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembangkan genting komposit berbasis biomassa berasal dari limbah biomassa lignoselulosa, seperti serat kelapa dan limbah kelapa sawit.
Genteng komposit ini ringan, kuat, dan berpotensi meningkatkan keamanan hunian, khususnya di wilayah rawan gempa.
“Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN, Prof. Sukma Surya Kusumah dikutip dari laman BRIN, Rabu 911/3/2026).
Dari situlah, kata Prof Sukma, muncul inisiatif untuk mengembangkan biomassa menjadi produk bernilai tambah tinggi, salah satunya untuk material genting.
Selain itu, lanjut Prof Sukma, inovasi ini juga dilatarbelakangi kondisi geografis Indonesia yang rentan terhadap bencana gempa bumi.
“Keunggulan utamanya adalah ringan tetapi tetap kuat. Hal ini penting untuk meningkatkan keselamatan penghuni rumah, terutama di wilayah yang rawan gempa,” jelas Sukma.
Selain itu, genting komposit biomassa juga memiliki sejumlah kelebihan lain, antara lain tahan air, tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat, harga yang kompetitif, serta termasuk produk ramah lingkungan (green product).
Genting komposit biomassa yang dikembangkan BRIN memiliki bobot jauh lebih ringan dibandingkan genting komersial pada umumnya. Jika genting tanah liat memiliki berat sekitar 32 kg/ m², genting komposit ini hanya sekitar 4 kg/m².
Meski ringan kekuatan mekanisnya tetap terjaga. Genting tersebut mampu menahan beban hingga sekitar 50 kg, sehingga masih aman ketika digunakan saat perawatan atap.
Inovasi ini juga berpotensi mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060, sekaligus mendukung program pembangunan perumahan nasional melalui program “gentengisasi”.
Material utama genting komposit ini berasal dari limbah biomassa lignoselulosa, seperti serat kelapa dan limbah kelapa sawit. Sementara itu, perekat yang digunakan berasal dari bahan alami, seperti tanin, asam sitrat, sukrosa, dan molase dari limbah pengolahan tebu.
Menurut Sukma, penggunaan perekat alami menjadi keunggulan tersendiri karena sebagian besar produk komersial masih menggunakan perekat berbasis formaldehida yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.
Proses produksi genting komposit dimulai dari pengolahan bahan biomassa menjadi partikel kecil menggunakan berbagai peralatan, seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill.
Partikel tersebut kemudian diseleksi berdasarkan ukuran menggunakan mesin ayakan (sieving machine) untuk mendapatkan komposisi optimal.
Setelah melalui proses pengeringan hingga kadar air sekitar 5-8%, partikel biomassa dicampur dengan perekat alami hingga merata. Campuran ini kemudian melalui tahap mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genting komposit.
Untuk memastikan kualitas produk, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, antara lain uji sifat fisis dan mekanis, uji ketahanan cuaca, serta uji ketahanan terhadap api. Sejak riset dimulai pada 2021, genting komposit biomassa juga telah melalui uji lapangan selama satu tahun.
“Hasil uji lapangan menunjukkan produk ini mampu bertahan dengan baik. Genting tidak mengalami pengembangan yang signifikan dan kekuatannya masih cukup untuk menahan beban manusia saat perawatan atap,” ungkap Sukma.
Saat ini, tim peneliti masih melanjutkan pengujian untuk mengetahui daya tahan produk yang diperkirakan dapat mencapai 10 hingga 20 tahun. (far)




