PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong hilirisasi komoditas unggulan Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, seperti kelapa. Potensinya bernilai tambah tinggi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN Taufik Hidayat menegaskan, BRIN hadir melalui dukungan riset dan inovasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam mendorong hilirisasi komoditas.
Sejumlah inovasi teknologi telah tersedia, seperti alat pemanjat kelapa, teknologi pengeringan, pengolahan VCO, hingga teknologi pengasapan cair.
“Kelapa memiliki potensi diversifikasi produk yang luas, mulai dari produk pangan seperti minyak kelapa, VCO, nata de coco, produk non-pangan seperti briket, coco fiber, cocopeat, produk industri lanjutan misalnya asap cair dan karbon aktif,” ungkap Taufik dikutip Minggu (3/5/2026).
Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus mendorong penciptaan nilai tambah bagi produk unggulan daerah.
Kepala BAPPERIDA Kota Tidore Kepulauan, Saiful Bahri Latif menyampaikan, hasil kajian BRIN diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang strategis dan menarik bagi para investor untuk menanamkan investasinya di Kota Tidore Kepulauan.
Ketua Tim Kajian dari BRIN Leny Oktaviani menjelaskan, perekonomian Kota Tidore Kepulauan terus menunjukkan kinerja positif dengan ditopang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang berkontribusi sebesar 22,2 persen terhadap PDRB pada 2024 serta tumbuh 5,3 persen.
“Ke depan, peluang penguatan semakin terbuka melalui pengembangan sektor industri pengolahan yang saat ini masih sebesar 2,5 persen, sehingga optimalisasi hilirisasi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas yang sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah,” jelasnya Leny.
BRIN menilai, pengembangan hilirisasi komoditas unggulan di Kota Tidore Kepulauan masih memerlukan penguatan, khususnya pada aspek hilir.
Pada komoditas kelapa, tantangan yang dihadapi antara lain produktivitas tanaman yang menurun akibat usia, pemanfaatan teknologi pengolahan yang belum optimal, serta penguatan kelembagaan dan pasar produk turunan.
Ketua Tim Manajemen Riset dan Inovasi Daerah Regional 11, Nora Sulastri menjelaskan, melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi, kajian ini diharapkan memberikan penguatan ekosistem hilirisasi secara terintegrasi. Meliputi pemanfaatan riset terapan, pengembangan UMKM pengolahan, penguatan kelembagaan, serta integrasi kebijakan lintas sektor.
“Dengan strategi tersebut, sektor pertanian dan perikanan tidak hanya menjadi basis produksi, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi untuk Kota Tidore Kepulauan yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (far)




