a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
A

Agrinas Palma Intensifikasi Kunci Jamin Ketersedian Bahan Baku Energi

8 September 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menegaskan intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan menjadi kunci dalam menjamin ketersediaan bahan baku berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani, saat menjadi pembicara dalam Panel Diskusi 3 The 12th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9).

Agrinas Palma memandang rencana apn dan pertamina persero pengembangan bioenergi tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan mandatori di sektor hilir. Keberhasilannya harus didukung sektor agroindustri yang produktif, berkelanjutan, dan mampu menyediakan bahan baku secara konsisten.

“Indonesia memiliki potensi bioenergi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan, serta memastikan hasil dari sektor hulu dapat terhubung dengan kebutuhan industri bioenergi nasional,” ujar Mohammad Abdul Ghani.

Menurut Abdul Ghani, kelapa sawit memiliki posisi strategis sebagai prime mover bioenergi nasional karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.

“Dengan menggunakan sekitar 8 persen lahan pertanian dunia, sawit menghasilkan sekitar 34 persen produksi minyak nabati pangan dunia dan dapat diolah menjadi biodiesel, Sustainable Aviation Fuel, oleokimia, bio-CNG, serta biogas,” jelas Abdul Ghani.

Perkebunan sawit rakyat mencakup sekitar 42 persen atau 6,94 juta hektare dari total luas perkebunan sawit Indonesia. Sekitar 2,8 juta hektare di antaranya didominasi tanaman berusia lebih dari 25 tahun dan melibatkan sekitar 1,4 juta kepala keluarga.

Dominasi tanaman tua dan rendahnya realisasi Peremajaan Sawit Rakyat  (PSR) menyebabkan produktivitas sawit rakyat masih berada pada kisaran 2,6 ton CPO per hektare. Padahal, melalui penerapan best practices, produktivitas dapat mencapai sekitar 5 ton CPO per hektare.

Saat ini, realisasi peremajaan baru sekitar 20 ribu hektare per tahun, sementara alokasi dana untuk program tersebut tercatat kurang dari 5 persen selama periode 2021 – 2023.

Berdasarkan hasil analisis data Agrinas Palma, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 104 juta ton CPO pada 2045 untuk memenuhi kebutuhan biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan, dan Sustainable Aviation Fuel.

Pemenuhan kebutuhan tersebut memerlukan peningkatan produktivitas dari 3 ton menjadi 4,4 ton CPO per hektare serta penambahan areal sekitar 7,4 juta hektare.

Agrinas Palma menilai intensifikasi perlu dilakukan melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penerapan pola tumpang sari tanaman pangan, Good Agricultural Practices, digitalisasi, mekanisasi, serta penguatan riset dan inovasi.

Sementara itu, ekstensifikasi dilaksanakan melalui verifikasi kawasan Hutan Produksi yang dapat Dikonversi, disertai reforestasi terhadap sisa kawasan dan area marginal.

Peningkatan produksi tersebut harus berjalan seiring dengan tata kelola berkelanjutan melalui perlindungan kawasan High Conservation Value dan High Carbon Stock, pelestarian keanekaragaman hayati, larangan penggunaan api dalam pembukaan lahan, serta penerapan sistem ketertelusuran berbasis teknologi informasi.

“Pendekatan ini sejalan dengan visi PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) untuk menjadi perusahaan perkebunan global yang terkemuka, ramah lingkungan, dan ramah sosial sebagai pilar utama swasembada pangan dan energi nasional,” ujar Abdul Ghani.

Hilirisasi sawit dikembangkan melalui rantai produksi terintegrasi, mulai dari pengelolaan kebun berkelanjutan, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan truk listrik untuk mengurangi emisi dan menghemat biaya pengangkutan, hingga pengolahan di pabrik kelapa sawit.

CPO yang dihasilkan dapat diolah menjadi biodiesel untuk mendukung program B50 serta minyak pangan. Tandan kosong dan Palm Oil Mill Effluent juga dapat dimanfaatkan menjadi green diesel, Sustainable Aviation Fuel, biogas, dan bahan bakar co-firing. (fad)

Tags: Agrinas Palma NusantaraBiodisel

Related Posts

A

Agrinas Palma dan Pertamina Buka Peluang Perluas Pengembangan Bioenergi

14 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina Power Indonesia buka...

Agrinas Palma Dorong Pola Kemitraan Berbasis Koperasi di Rokan Hulu

Agrinas Palma Dorong Pola Kemitraan Berbasis Koperasi di Rokan Hulu

27 Agustus 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) terus mengembangakan pola kemitraan berbasis koperasi sebagai upaya memperkuat keterlibatan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Peningkatan Produktivitas Sawit Jadi Langkah Krusial

Peningkatan Produktivitas Sawit Jadi Langkah Krusial

19 Juni 2025
Harga TBS Sawit Petani Mitra Plasma Riau turun

Harga TBS Sawit Petani Mitra Plasma Riau Juga Masih Naik

6 Agustus 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.