JAKARTA, perkebunanindonesia.com – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) (APN) dan IPB Unversity menguatkan kerja sama bidang riset. Fokusnya pada perbaikan bibit sawit dan budidaya.
“Presiden RI menaruh harapan besar agar Indonesia mampu menjadi negara yang mandiri dalam energi baru dan terbarukan. Oleh karena itu, APN bersama IPB akan membentuk pusat riset bersama,” ujar Direktur Bisnis dan Pengembangan Industri PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Edi Slamet Irianto, seperti dikutip Senin (16/6/2025).
Edi mengatakan, APN, yang memiliki fokus utama pada sektor perkebunan kelapa sawit, diberikan mandat besar oleh negara untuk mendukung tiga pilar strategis.
Ketiga pilar itu ketahanan energi nasional melalui pengembangan bioenergi. Ketahanan pangan, termasuk penyediaan protein hewani melalui program integrasi sawit-sapi (SISKA).
Serta ketahanan penerimaan negara, lewat hilirisasi kelapa sawit untuk meningkatkan nilai ekonomi dan kontribusi terhadap industri nasional.
Kolaborasi ini memperkuat sinergi antara dunia industri dan akademisi dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang luas dan kaya, khususnya dalam bidang pertanian dan energi terbarukan terwujud melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penandatanganan perjanjian, melainkan terus berlanjut ke tingkat implementasi di lapangan dan pusat riset.
Kolaborasi ini juga ditargetkan menjadi kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045, terutama dalam memperkuat kemandirian pangan dan energi nasional berbasis kelapa sawit.
“Semoga penandatanganan PKS tidak berhenti, akan terus berlanjut di lapangan, lahan dan pusat-pusat penelitian, kita akan segera membangun pusat penelitian IPB dan Agrinas Palma,” ungkap Edi.
Ketua Tim Pengolahan Kelapa Sawit Mini Prof. Sudradjat memaparkan lima ruang lingkup kerja sama utama yang telah disepakati dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Pertama, peningkatan produktivitas tanaman sawit. Fokus utama adalah pengembangan teknologi pemupukan, pengendalian hama, serta pembangunan depo pendukung di lapangan.
“Ini diharapkan dapat meningkatkan hasil kebun secara signifikan dan berkelanjutan,” ujar Sudradjat.
Kedua, nilai tambah produk sawit. Peningkatan nilai ekonomi produk sawit menjadi prioritas kedua, termasuk di dalamnya pengembangan produk turunan seperti gula industri.
Salah satu peneliti bahkan telah berhasil mengembangkan gula dari kelapa sawit yang berpotensi menjadi terobosan nasional.
Ketiga, pemanfaatan limbah dan biomaterial. Kerja sama juga meliputi pemanfaatan limbah sawit menjadi produk berguna, seperti pakan ternak, biopelet, dan bahan biomaterial lain. Langkah ini sekaligus mendukung prinsip zero waste di sektor perkebunan.
Keempat, optimalisasi lahan sawit. Ruang lingkup ini mencakup pemanfaatan land bank, perbaikan kesuburan tanah, serta pendampingan replanting melalui pendekatan teknologi berbasis SISKA (Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit) yang dikembangkan Prof. Nahrowi dan tim.
Kelima, pengembangan riset dan pendidikan. Program ini menempatkan Jonggol sebagai pusat penelitian Agrinas Palma, didukung sistem di lapangan di berbagai wilayah.
Kolaborasi ini diharapkan melahirkan inovasi baru dan SDM unggul untuk industri sawit masa depan.
Nota Kesepahaman atau MoU APN dengan IPB University tersebut mencakup lima bidang utama: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan perkebunan dan agroindustri, serta inisiatif lain yang disepakati bersama. (far)




