a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
BRIN Kembangkan Kapas Organik Sistem Tumpang Sari

BRIN Kembangkan Kapas Organik Sistem Tumpang Sari

15 Mei 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

CIBINONG, perkebunanindonesia.com – Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjalin kerja sama riset dengan Yayasan Rumah Sukkha Citta (YRSC) dalam pengembangan kapas organik melalui pendekatan sistem tumpang sari di lahan kering iklim kering (LKIK).

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto menegaskan bahwa kapas bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.

Melalui kerja sama ini, Setiari berharap dapat menggabungkan kapasitas riset BRIN dengan praktik sosial-ekologis yang telah diterapkan YRSC di lapangan.

“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya bermanfaat, tetapi juga mendatangkan keberkahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, dengan mengangkat tekstil berbahan dasar kapas lokal ke panggung internasional,” tambah Setiari, seperti dikutip Rabu (14/5/2025).

Kolaborasi ini dirancang sebagai upaya revitalisasi budaya kapas varietas nasional Indonesia (Kanesia), sekaligus peningkatan kesejahteraan petani melalui penerapan sistem pertanian yang alami dan berkelanjutan.

Kapas yang ditanam secara organik dengan metode tumpang sari di LKIK menjadi alternatif penting dalam mendukung ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat desa.

Dengan mengintegrasikan keunggulan ilmiah BRIN dalam pengembangan varietas kapas nasional dan pengalaman lapangan YRSC dalam pertanian regeneratif, kerja sama ini diharapkan menjadi langkah nyata membangun sistem produksi kapas yang adil, inklusif, serta adaptif terhadap perubahan iklim dan kondisi lahan marginal.

Riset bersama ini mencakup pengembangan budidaya kapas varietas Kanesia 22 secara organik melalui tumpang sari dengan tanaman pangan adaptif, seperti jagung, padi gogo, singkong, dan sorgum, serta kacang tanah. Lokasi kegiatan meliputi Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Tuban.

Selain itu, kolaborasi ini juga mencakup pendampingan produksi benih kapas Kanesia 22, serta pengumpulan dan analisis data mutu serat, produktivitas lahan, dan kesehatan tanah.

Data ilmiah yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk replikasi sistem di wilayah lain yang memiliki agroekosistem serupa.

Ketua Pembina YRSC, Denica Riadini mengatakan, kerja sama ini merupakan awal dari gerakan kolaboratif lintas sektor untuk mendorong pertanian berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

“Tumpang sari juga merupakan solusi ekologis karena secara saintifik dapat menyerap emisi karbon,” ujar Denica.

Melalui kerja sama ini, kata Denica, petani tidak hanya menjalankan budaya pertanian, namun juga membuka peluang ekonomi berbasis budaya, khususnya bagi perempuan di pedesaan.

Dengan pendekatan yang menggabungkan riset ilmiah dan aksi komunitas, kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pertanian kapas nasional yang ramah lingkungan dan berbasis lokal.

Hasil riset ini akan dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi internasional sebagai bentuk diseminasi pengetahuan dan dorongan inovasi kebijakan di sektor pertanian berkelanjutan. (har

Tags: Kapas

Related Posts

Pengembangan Perkebunan di Lahan Suboptimal Jadi Peluang Strategis

Kemenperin Perkuat Industri Kakao Siapkan 100 Cocoa Doctor

20 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing...

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

Produk Indikasi Geografis Teh Java Preanger Perluas Pasar ke Benua Amerika

16 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Teh Java Preanger membuka peluang memperluas pasar internasional, khusus ke benua Amerika. Permintaan teh tersebut...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Kementan Kembangkan Kawasan Tebu Seluas 97.970 Hektare

Kementan Terus Perluas Sentra Produksi Tebu Baru, Termasuk Bombana

10 Juli 2026
Harga Refensi Biji Kakao

Harga Biji Kakao Periode Juni 2026 Naik 17,2 Persen

31 Mei 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.