CIBINONG, perkebunanindonesia.com – Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjalin kerja sama riset dengan Yayasan Rumah Sukkha Citta (YRSC) dalam pengembangan kapas organik melalui pendekatan sistem tumpang sari di lahan kering iklim kering (LKIK).
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto menegaskan bahwa kapas bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.
Melalui kerja sama ini, Setiari berharap dapat menggabungkan kapasitas riset BRIN dengan praktik sosial-ekologis yang telah diterapkan YRSC di lapangan.
“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya bermanfaat, tetapi juga mendatangkan keberkahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, dengan mengangkat tekstil berbahan dasar kapas lokal ke panggung internasional,” tambah Setiari, seperti dikutip Rabu (14/5/2025).
Kolaborasi ini dirancang sebagai upaya revitalisasi budaya kapas varietas nasional Indonesia (Kanesia), sekaligus peningkatan kesejahteraan petani melalui penerapan sistem pertanian yang alami dan berkelanjutan.
Kapas yang ditanam secara organik dengan metode tumpang sari di LKIK menjadi alternatif penting dalam mendukung ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat desa.
Dengan mengintegrasikan keunggulan ilmiah BRIN dalam pengembangan varietas kapas nasional dan pengalaman lapangan YRSC dalam pertanian regeneratif, kerja sama ini diharapkan menjadi langkah nyata membangun sistem produksi kapas yang adil, inklusif, serta adaptif terhadap perubahan iklim dan kondisi lahan marginal.
Riset bersama ini mencakup pengembangan budidaya kapas varietas Kanesia 22 secara organik melalui tumpang sari dengan tanaman pangan adaptif, seperti jagung, padi gogo, singkong, dan sorgum, serta kacang tanah. Lokasi kegiatan meliputi Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Tuban.
Selain itu, kolaborasi ini juga mencakup pendampingan produksi benih kapas Kanesia 22, serta pengumpulan dan analisis data mutu serat, produktivitas lahan, dan kesehatan tanah.
Data ilmiah yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar untuk replikasi sistem di wilayah lain yang memiliki agroekosistem serupa.
Ketua Pembina YRSC, Denica Riadini mengatakan, kerja sama ini merupakan awal dari gerakan kolaboratif lintas sektor untuk mendorong pertanian berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
“Tumpang sari juga merupakan solusi ekologis karena secara saintifik dapat menyerap emisi karbon,” ujar Denica.
Melalui kerja sama ini, kata Denica, petani tidak hanya menjalankan budaya pertanian, namun juga membuka peluang ekonomi berbasis budaya, khususnya bagi perempuan di pedesaan.
Dengan pendekatan yang menggabungkan riset ilmiah dan aksi komunitas, kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pertanian kapas nasional yang ramah lingkungan dan berbasis lokal.
Hasil riset ini akan dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi internasional sebagai bentuk diseminasi pengetahuan dan dorongan inovasi kebijakan di sektor pertanian berkelanjutan. (har




