JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Dana riset untuk sawit berasal dari kontribusi para pelaku industri kelapa sawit nasional, termasuk petani. Sehingga hasilnya juga diarahkan untuk dimanfaatkan langsung oleh petani guna meningkatkan kinerjanya.
Demikian diungkapkan Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Mohammad Alfansyah.
BPDP bersama Asosiasi Inventor Indonesia (AII) mempromosikan hasil riset dari Program Grant Riset Sawit (GRS) BPDP yang aplikatif bagi peningkatan produktivitas petani.
Langkah ini agar hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan oleh penggunanya, yaitu petani atau UMKM kelapa sawit.
“Kerjasama dengan AII ini diharapkan agar teknologi yang ditemukan dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan bagi para petani kelapa sawit sebagai penggunanya,” ujar Mohammad Alfansyah seperti dikutip, Selasa (6/5/2025).
Mohammad Alfansyah mengungkapkan, BPDP telah melaksanakan salah satu tugas sesuai mandatnya yakni membiayai kegiatan riset dari berbagai lembaga riset atau perguruan tinggi dan lembaga penelitian di tanah air.
Kegiatan riset ini, lanjut Alfansyah, untuk menghasilkan kebijakan dan juga teknologi yang dapat mendorong terwujudnya industri kelapa sawit nasional yang tangguh di pasar global.
Selain mendanai riset kelapa sawit, BPDP uga meningkatkan kapasitas SDM kelapa sawit, dengan menyediakan beasiswa bagi anak-anak petani kelapa sawit untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan mendalami perkelapasawitan, pada program diploma dan sarjana.
Alfansyah mengatakan, mekanisme penyaluran beasiswa dilaksanakan melalui Dinas Perkebunan setempat dan dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
“Dua hal ini penting itu karena bukan hanya kebun kelapa sawit tua saja yang perlu diremajakan, tetapi juga petaninya. BPDP juga menyediakan dana untuk replanting, sarana dan prasarana kebun seperti jalan dan lain-lain,” terang Alfansyah..
Sementara itu, Ketua Umum AII, Prof (Ris). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D., IPU, INV mengatakan, latar belakang pelaksanaan kegiatan karena masih ada keluhan dari para petani kelapa sawit bahwa hasil riset program GRS masih kurang dapat dimanfaatkan.
“Masih diharapkan penyampaian langsung teknologi yang bermanfaat bagi petani, semoga dengan dukungan BPDP, AII dapat melakukan kegiatan diseminasi ini pada tiga provinsi, yaitu Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan,” ujar Didiek Hajar.
Didiek berharap agar melalui kegiatan ini teknologi-teknologi yang aplikatif untuk petani khususnya dalam rangka meningkatkan produktivitas dapat dimanfaatkan para petani atau UMKM kelapa sawit.
Pada kegiatan diseminasi di Kampar disajikan tiga invensi yang erat kaitannya dengan produktivitas petani kelapa sawit, yaitu alat pendeteksi kematangan buah (TBS) hasil invensi Dr-Eng Muhammad Makky, STP, MSi dan tim dari Universitas Andalas.
Selain itu, ada sistem pintar dengan android sebagai penyuluh kelapa sawit bagi petani oleh Muhdan Syahovy, SP, MSc dari Pusat Penelitan Kelapa Sawit (PPKS) Medan.
Teknologi lainnya yaitu pengendalian secara kuratif terhadap penyakit Ganoderma dengan fungisida nabati oleh Ciptadi Achmad Yusup, SP, MSi dari PPKS Unit Bogor. (far)




