PERKEBUNAN INDONESIA – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University kembangkan bioetanol berbahan baku singkong, sorgum, dan jagung memasuki tahap yang lebih konkret.
Pengembangan bukan hanya membangun pabrik, namun memastikan bahan baku tersedia, teknologi tepat, rantai pasok terintegrasi, dan produk akhirnya mampubersaing secara komersial.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan pengembangan bioetanol perlu ditempatkan sebagai ekosistem dari hulu hingga hilir.
Lebih lanjut Abdul Ghani menuturkan, Agrinas Palma telah melakukan pemetaan lahan dan menyiapkan roadmap pengembangan multifeedstock.
Dalam roadmap tersebut, pada 2029 ditargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung, dengan kapasitas produksi bioetanol sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun.
“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani, Selasa (6/10/2026).
Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., menegaskan bahwa kolaborasi lintas disiplin diperlukan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan.
Menurut Suryo, Faperta memiliki berbagai inovasi dan kompetensi yang dapat dikolaborasikan untuk mendukung pengembangan bioetanol, mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, dan model pengembangan yang dapat menghasilkan keluaran konkret dan terukur.
“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail,” jelas Suryo.
Karena itu, kata Suryo, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik.
“Faperta memiliki berbagai inovasi dan siap berkolaborasi untuk mendukung program ini agar dapat dikembangkan secara produktif dan berkelanjutan,” kata Suryo.
Wakil Rektor I IPB, Prof. drh. Deni Noviana, PhD, DAiCVIM mengatakan, kebijakan strategis perlu dibangun di atas scientific base dan kompetensi lintas fakultas.
Menurut Deni, pengembangan bioetanol tidak cukup dikaji dari satu sisi karena menyangkut pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, serta aspek sosial.
“Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” ujar Deni. (far)




