PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat mitigasi menghadapi musim kemarau guna menjaga produktivitas kelapa sawit, menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta melindungi pendapatan pekebun di tengah tantangan perubahan iklim.
“Mitigasi kemarau harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari,” ujar Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto dalam keterangannya dikutip Senin (3/8/2026).
Heru menegaskan, mitigasi kemarau harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan perkebunan sehari-hari. Penerapan praktik budidaya yang adaptif menjadi kunci menjaga produktivitas sawit di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
“Melalui pengelolaan air yang baik, konservasi tanah, pemanfaatan informasi iklim, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran, produktivitas sawit dapat tetap terjaga meski di tengah tantangan perubahan iklim,” jelas Heru.
Sebagai langkah mitigasi, Kementan mendorong penerapan konservasi air melalui pembangunan rorak, embung, sumur resapan, parit konservasi, guludan, dan terasering.
Infrastruktur tersebut berfungsi meningkatkan infiltrasi air, mengurangi limpasan, serta memperkuat cadangan air tanah selama musim kemarau.
Upaya tersebut diperkuat dengan konservasi tanah melalui pemanfaatan pelepah sawit sebagai mulsa, aplikasi tandan kosong (empty fruit bunch/EFB), penanaman Legume Cover Crop (LCC), serta penggunaan kompos dan biochar untuk menjaga kelembapan, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.
Pekebun juga didorong untuk melakukan pengelolaan tata air yang disesuaikan dengan karakteristik lahan. Pada lahan mineral dilakukan pembangunan embung, pemanfaatan pompa air, penyiraman tanaman belum menghasilkan (TBM), serta pemanenan air hujan.
Sementara pada lahan gambut, pengelolaan difokuskan pada menjaga tinggi muka air sekitar 40 sentimeter di bawah permukaan tanah, pemeliharaan sekat kanal, pemantauan muka air menggunakan sumur pantau, serta penutupan kanal yang tidak lagi dimanfaatkan.
Selain itu, penyesuaian waktu pemupukan dilakukan sesuai kondisi curah hujan agar penyerapan unsur hara lebih optimal. Penggunaan pupuk organik terus didorong untuk menjaga kesuburan tanah.
Pengendalian gulma diprioritaskan pada jenis yang menjadi kompetitor air, sementara vegetasi penutup tanah seperti LCC tetap dipertahankan karena berperan menjaga kelembapan lahan.
Mitigasi turut diperkuat melalui patroli rutin, pembentukan regu siaga, penyediaan sarana pemadaman, pemantauan titik panas (hotspot), sosialisasi larangan pembakaran lahan, serta penerapan prosedur operasional standar (SOP) kesiapsiagaan.
Pemanfaatan informasi iklim dari BMKG, kalender tanam, dan sistem peringatan dini juga menjadi acuan dalam menentukan strategi pengelolaan kebun yang lebih adaptif.
Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat implementasi di lapangan. Salah satunya melalui rapat koordinasi bersama perusahaan perkebunan pemegang Izin Usaha Perkebunan (IUP), termasuk perusahaan kelapa sawit, guna memastikan kesiapan sarana dan prasarana pengendalian karhutla.
Selain itu, Ditjen Perkebunan juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap sarana dan prasarana pengendalian karhutla di sejumlah perusahaan perkebunan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Siak, Riau.
Sidak dilakukan untuk memastikan seluruh peralatan, personel, serta sistem penanggulangan kebakaran dalam kondisi siap siaga sehingga dapat merespons secara cepat dan efektif apabila terjadi kebakaran di wilayah perkebunan. (sat)




