PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peremajaan kelapa seluas 200 ribu hektare lebih di seluruh sentra produksi utama di Indonesia terkait program hilirisasi perkebunan.
“Kami target peremajaan kelapa 221.890 ribu hektare dengan biaya tanamnya kurang lebih Rp 1,16 triliun,” ungkap Ketua Tim Kerja Pengembangan Kawasan Kelapa, Direktorat Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan, Kementan, Agus Rosyid, dalam webinar kelapa, Rabu (22/7/2026).
Selain itu, kata Agus, Kementan juga memberi bantuan paket benih, antara lain kelapa genjah, dalam, hibrida, benih unggul lokal atau nasional bersertifikat dengan volume 110 batang per hektare.
Agus juga mengungkapkan, pihaknya juga memberi bantuan pupuk organik padat sebanyak 330 kilogram per hektare dan ditambah juga biaya persiapan lahan untuk kegiatan peremajaan.
“Untuk tahun 2025 sudah kita mulai dan Alhamdulillah realisasinya mencapai 92 persen seluas 1.975 hektare dengan anggaran Rp 10,9 miliar,” ujar Agus.
Sedangkan program kelapa tahun 2026 dengan target 151.554 hektare di 10 provinsi dengan anggaran Rp 427 miliar di luar bantuan benih.
“Kemudian di 2027 masih dipersiapkan kembali, seluas 51.721 hektare dengan anggarannya Rp 154 miliar di hampir seluruh provinsi dari Sabang, Aceh sampai Papua,” papar Agug.
Agus menjelaskan, pada awalnya memang dirancang untuk 10 sentra produksi. Namun seiring berjalannya waktu banyak usulan sehingga terjadi perubahan-perubahan perencanaan.
“Kita mengakomodir juga di pulau-pulau lain yang memang ada minat dari para petani untuk ikut dalam program hilirisasi ini,” kata Agus.
Agus mengakui, luas area dan produksi kelapa nasional terus mengalami menurun. Faktor antara lain peralihan konversi infrastruktur, tanaman banyak yang tua, dan adanya serangan hama.
Indonesia sendiri saat ini masih berada di nomor dua dunia sebagai produsen kelapa terbesar dengan produksi 2.132.088 ton dan luas areal 3,2 juta hektare. Dari jumlah itu, 98 persen merupakan perkebunan kelapa rakyat.
“Saat ini produktifitas kelapa belum optimal, karena masih di sekitar 1,1 ton yang seharusnya bisa mencapai 3,5 sampai 5 ton,” kata Agus. (yer)



