PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Pertamina (Persero) mulai pembahasan pengembangan diriling starch berbasis komoditas sagu sebagai aditif fluida pengeboran migas.
Perekayasa Ahli Utama PRTP BRIN Bambang Triwiyono menjelaskan, sagu diolah melalui rekayasa proses menjadi drilling starch, aditif fluida pengeboran.
“Hal ini untuk mengendalikan kehilangan cairan ke formasi batuan, sebagai upaya pengembangan material pendukung industri berbasis potensi nasional,” ujar Bambang dikutip dari laman brin,go.id, Sabtu (4/7/2026).
Pada periode kerja sama kedua, Oktober 2023–Juli 2024, kata Bambang, fasilitas BRIN di Anak Tuha memproduksi sekitar 16 ton drilling starch berbasis sagu yang digunakan dalam uji lapangan Pertamina di Ramba Field, Zona 4 (Maret 2025) dan Jatibarang Zona 7 (November 2025).
“Hasil evaluasi menunjukkan kinerja produk baik sebagai pengendali kehilangan filtrat tanpa kendala berarti,” ungkap Bambang.
Menurut Bambang, capaian tersebut menandai kemajuan riset dari skala laboratorium ke produksi pilot dan kesiapan teknologi untuk kebutuhan industri.
Kolaborasi Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) yang juga melibatkan PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin itu untuk pengeboran migas di fasilitas pengembangan drilling starch BRIN, Anak Tuha Lampung Tengah.
Diskusi mencakup pengembangan teknologi drilling starch sejak 2022, meliputi optimasi bahan baku tapioka dan sagu, pengembangan prototipe, kajian teknis-ekonomi, produksi skala pilot, hingga uji produk pada kegiatan pengeboran minyak dan migas.
Dalam jangka panjang, Pertamina merencanakan pembangunan fasilitas produksi mandiri dengan supervisi teknis dari BRIN, diawali studi teknis dan kajian kelayakan sebagai dasar tahapan pembangunan hingga operasional.
Kolaborasi BRIN dan Pertamina menegaskan pentingnya sinergi riset dan industri dalam mempercepat pemanfaatan hasil penelitian.
Kerja sama ini menghasilkan inovasi sesuai kebutuhan sekaligus umpan balik untuk meningkatkan kesiapan teknologi.
Pengembangan drilling starch berbasis sagu menjadi contoh pemanfaatan sumber daya hayati bernilai tambah bagi sektor energi.
Kolaborasi berkelanjutan ini diharapkan memperkuat kapasitas teknologi nasional dan kemandirian industri migas. (far)




