PERKEBUNAN INDONESIA – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mempercepat pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) di berbagai wilayah operasionalnya sepanjang 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam merespons penurunan produksi gas bumi nasional, sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih berbasis sumber daya domestik.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, mengatakan, pada 2026 perusahaan memprioritaskan pelaksanaan groundbreaking delapan unit CBG baru dari total 17 proyek yang direncanakan. Saat ini, satu unit telah dalam tahap pembangunan.
“Fokus kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi memastikan integrasi dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, distribusi, hingga kepastian pasar melalui skema offtaker,” kata Jatmiko dalam keterangan di Jakarta, dikutip Senin (13/4/2026).
Jatmiko mengatakan, pengembangan CBG diarahkan untuk membangun ekosistem energi hijau yang berkelanjutan. Selain menekan emisi gas rumah kaca, proyek ini juga diharapkan menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah industri sawit.
Jatmiko menegaskan, proyek CBG menjadi salah satu pilar utama dalam strategi dekarbonisasi perusahaan, sekaligus mendukung agenda Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Ini bukan sekadar proyek energi, tetapi bagian dari kontribusi kami terhadap target penurunan emisi nasional,” tukas Jatmiko.
Jatmiko menambahkan, pengembangan CBG merupakan bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tuntutan dekarbonisasi global.
“PalmCo ingin memastikan setiap langkah bisnis tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan dan ketahanan energi nasional,” kata Jatmiko lagi.
PalmCo saat ini secara aktif mengelola 68 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah tandan buah segar (TBS) mencapai sekitar 12 juta ton per tahun.
Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 7,2 juta ton limbah cair POME setiap tahun—yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi terbesar di pabrik kelapa sawit.
Melalui teknologi methane capture dan upgrading, limbah cair itu diolah menjadi biomethane dengan kandungan metana lebih dari 95 persen. Gas tersebut kemudian dikompresi menjadi CBG yang dapat dimanfaatkan sebagai substitusi gas alam, seperti compressed natural gas (CNG).
Pemanfaatan POME ini berkontribusi sekitar 44 persen terhadap total emisi gas rumah kaca di pabrik kelapa sawit, dengan estimasi mencapai 200 kilogram CO2 ekuivalen per meter kubik. Pengolahannya menjadi CBG tidak hanya menekan emisi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah limbah.
PalmCo menargetkan hingga 2030 sebanyak 40-an pabrik kelapa sawit akan dioptimalkan untuk proyek berbasis energi baru terbarukan, baik dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas, CBG, Biogas Cofiring hingga Pembangkit Listrik Tenaga Biomass.
Program tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 230.000 ton CO2 ekuivalen pada 2026. Dalam jangka panjang, total potensi penurunan emisi diperkirakan mencapai 0,9 juta ton CO2 ekuivalen hingga 2030.
PalmCo memperkirakan terjadi peningkatan nilai hingga 22 kali lipat dibandingkan skema bisnis konvensional. Potensi pendapatan mencapai sekitar Rp 42,5 miliar per tahun, yang berasal dari skema bagi hasil, kredit karbon, serta pemanfaatan aset lahan. (har)



