PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya mendorong peningkatan produksi dan produkstivitas tembakau petani agar industri tetap eksis secara berkelanjutan.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertajuk “Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau” di Kementerian Pertanian (Kementan), Kamis (26/2/2026).
“Banyak sekali tantangan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tembakau petani, mulai dari hulu hingga kebijakan yang kontraproduktif terkait dengan kesehatan masyarakat,” ungkap Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto.
Di satu sisi, kata Setiari, pihaknya ingin meningkatkan daya saing tembakau nasional. Namun di sisi lain ada tekanan regulasi yang membuat ruang gerak industri dan petani menjadi terbatas.
Apalagi, lanjut Setiari, ada rancangan peraturan tentang pembatasan kadar tar dan nikotin tembakau kurang dari 1 persen. Padahal varietas tembakau lokal kadarnya masih di atas 1 persen.
“Kita belum siap dengan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini. Dengan kondisi saat ini, tidak ada varietas lokal tembakau kita yang kurang dari 1 persen. Tersebar mulai dari Temanggung, Jember, Banyuwangi,” jelas Setiari.
Oleh karena itu, BRIN memaksimalkan fokus pada strategi percepatan produksi tembakau lokal adalah melalui pemuliaan tanaman agar lebih tahan terhadap anomali cuaca maupun serangan penyakit.
“Kami di BRIN fokus pada pengembangan varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim. Tantangan ke depan bukan hanya soal pasar, tetapi juga bagaimana tanaman ini mampu bertahan di tengah kondisi cuaca yang makin tidak menentu,” kata Setiari.
Lebih lanjut Setiari mengungkan, tim riset BRIN telah mengembangkan varietas tembakau yang memiliki ketahanan terhadap anomali cuaca La Nina yang berpotensi menyebabkan genangan banjir.
“Penelitian kami bertujuan mendapatkan galur atau varietas tembakau yang toleran terhadap cekaman kadar air tanah tinggi, tetapi tetap memiliki mutu daun rajangan kering yang baik. Jadi bukan hanya tahan terhadap genangan, tetapi kualitasnya juga tetap sesuai standar industri,” jelas Setiari
Selain itu, menurut Setiari, peningkatan daya saing juga mesti diimbangi dengan mutu tembakau yang dapat diterima pasar harus memenuhi sejumlah parameter.
“Pasar menghendaki tembakau dengan kadar aroma tertentu, ketebalan daun yang sesuai, serta kekenyalan yang baik. Jadi pemuliaan tidak boleh hanya fokus pada ketahanan, tetapi juga karakter mutu yang disukai konsumen,” ujar Setiari.
Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Yudi Wahyudi, menegaskan, tembakau bukan sekadar komoditas biasa melainkan menjadi penghasil devisa, dan penggerak ekonomi pedesaan.
“Dari sisi penerimaan negara, kontribusi cukai hasil tembakau itu bisa mencapai sekitar Rp280 triliun. Ini angka yang sangat besar. Tembakau adalah tanaman masyarakat petani daerah, bukan hanya soal devisa, tetapi juga penggerak ekonomi desa dari hulu sampai hilir,” ujar Yudi.
Yudi menyebutkan, Data Statistik Perkebunan 2025 luas tanam tembakau mencapai sekitar 200 ribu hektare dengan produksi hampir 300 ribu ton. Sedangkan tingkat produktivitas rata-rata saat ini turun menjadi sekitar 1,3 ton per hektare.
Yudi mengatakan, penurunan produktivitas tembakau saat ini salah satunya faktor cuaca yang tidak menentu. Sehingga produksi tembakau mengalami penurunan.
Meski begitu, tambah Yudi, jika terus mengambinghitamkan iklim juga tidak fair. Karena dalam dua tahun terakhir rokok ilegal marak yang berdampak pada penyerapan bahan baku. Beberapa pembelian tembakau memang menurun. Jadi ini bukan semata-mata soal cuaca,” tegasnya.
Data Kementan mencatat, sentra tembakau masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Jawa Tengah memiliki sekitar 50 ribu hektare dengan produksi 56 ribu ton, sementara Jawa Barat 8.600 hektare dengan produksi sekitar 8.000 ton.
Secara nasional, terdapat sekitar 571.257 keluarga petani tembakau. Jika satu keluarga terdiri dari empat orang, maka sekitar 4 juta jiwa bergantung langsung pada sektor ini, dan bisa mencapai 6 juta orang jika dihitung dari hulu hingga hilir.
Ketua Tim Kerja Informasi Iklim Terapan Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, iklim di sentra produksi tembakau nasional saat ini terjadi anomali sehingga menyulitkan petani dalam budidaya tembakau.
“Tanaman tembakau membutuhkan panas yang cukup agar dapat tumbuh maksimal. Namun di beberapa daerah saat ini cuaca sering berubah, sehingga menyulitkan petani,” ujar Siswanto.
Sekretaris Jenderal DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APT), Mudi, mengakui, adanya penurunan produksi tembakau sehingga masih sekitar 1 ton lebih per hektare per tahun.
“Cuaca yang susah diprediksi menjadi salah satu produksi tembakau menurun. Apalagi di daerah yang susah air seperti di Madura. Kami mesti membeli air untuk menyiram tanaman tembakau.” ujar Mudi. (yer)




