PERKEBUNAN INDONESIA – Pengembangan kawasan tebu di Pati, Jawa Tengah, juga mendapat bagian sebagai bagian dari strategi nasional menuju swasembada gula.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) Heru Tri Widarto, menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kepatuhan terhadap jadwal teknis.
“Drop benih, olah tanah, dan tanam itu fase yang tidak boleh bergeser. Kalau kita longgar seminggu saja, produktivitas ikut turun,” tukas Heru, dikutip Kamis (4/12/2025).
Karena itu, Heru meminta seluruh jajaran—dinas, penyuluh, pemerintah kecamatan, desa, sampai kemitraan dengan pabrik gula—harus bekerja tanpa jeda.
“Kita tidak hanya menanam tebu. Kita memastikan pekebun mendapatkan benih yang benar, dukungan operasional yang cukup, dan kepastian kemitraan. Tanpa itu, produksi naik tetapi masalah hilir tetap muncul. Kami tidak ingin itu terjadi,” lanjut Heru.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan produksi hanya akan efektif jika hilirisasi berjalan beriringan.
“Kalau hilirisasi tidak diperbaiki, peningkatan produksi tidak akan membawa Indonesia ke swasembada yang permanen,” ujar Amran.
Menurut Amran, industri gula harus terintegrasi dari hulu sampai hilir, modern, efisien, dan menghasilkan nilai tambah yang kembali ke petani dan negara.
Kementan memandang percepatan pengembangan tebu di Pati menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan pekebun, serta membangun industri gula nasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Pada pelaksanaan tanam bersama di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pati, Kementan memastikan langkah peningkatan produktivitas dilakukan secara terukur dan diawasi ketat.
Program nasional tahun 2025 mengalokasikan pengembangan kawasan tebu seluas 100.453 hektare, terdiri atas 5.528 hektare perluasan dan 94.925 hektare bongkar ratoon.
Upaya ini dilanjutkan pada tahun 2026 dengan target 99.547 hektare. Untuk Jawa Tengah, alokasi mencapai 12.076 hektare, termasuk Kabupaten Pati yang ditargetkan mengembangkan 3.190 hektare.
Kegiatan lapangan telah memasuki tahap distribusi benih, pengolahan lahan, dan penanaman, termasuk tanam bersama Poktan Mulyo Berkah.
Pemerintah memberikan bantuan benih varietas Bulu Lawang dan PSJT—keduanya memiliki potensi hasil tinggi dan karakter pertumbuhan yang kuat. Varietas Bulu Lawang dapat mencapai 94,3 ton/ha dengan rendemen 7,51 persen.
Diharapkan produksi yang meningkat dapat memperkuat pasokan tebu bagi pabrik gula di wilayah Pati dan mendukung pemulihan industri gula nasional. (sat)




