PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2025, mengalokasikan pengembangan kawasan tebu nasional seluas 100.453 hektare, terdiri dari 5.528 hektare perluasan dan 94.925 hektare bongkar ratoon.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto, mengungkapkan, bongkar ratoon merupakan langkah teknis yang memiliki peran penting dalam peremajaan tanaman tebu.
“Kegiatan bongkar ratoon ini merupakan instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas tebu nasional. Dengan peremajaan tanaman yang terukur dan penggunaan varietas unggul, kita memastikan bahwa peningkatan produksi dapat dicapai secara berkelanjutan,” ujar Heru dikutip Sabtu (22/11/2025).
Program ini, menurut Heru, menjadi fondasi untuk memperbaiki produktivitas di tingkat pekebun. Keberhasilan program bergantung pada sinergi dan konsistensi seluruh pihak di lapangan dan pentingnya percepatan pendataan CPCL dan distribusi benih.
“Kami mengajak pemerintah daerah, penyuluh, pabrik gula, dan kelompok tani untuk memperkuat koordinasi sehingga seluruh target dapat terpenuhi sesuai waktu yang ditetapkan,” ujar Heru.
Program ini akan berlanjut pada tahun 2026 dengan tambahan alokasi seluas 99.547 hektare. Di Provinsi Jawa Tengah, alokasi pengembangan tahun 2025 mencapai 12.076 hektare.
Salah satunya Kabupaten Sukoharjo yang mendapatkan target bongkar ratoon seluas 174 hektare. Hingga 19 November, Sukoharjo telah mencapai 166,37 hektare CPCL atau 95,61 persen, sementara distribusi benih tercatat 23 hektare.
“Dengan dukungan bersama Kabupaten Sukoharjo dapat menjadi contoh penerapan program bongkar ratoon yang efektif di Jawa Tengah,” ujar Heru.
Direktorat Jenderal Perkebunan melaksanakan Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Desa Rejosari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, pada Jumat (21/11).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tebu, sekaligus mendukung pencapaian target swasembada gula secara berkelanjutan.
Kegiatan tanam perdana ini melibatkan Kelompok Tani Joyo Tani dan menggunakan varietas unggulan Bululawang (BL) yang memiliki potensi hasil hingga 94,3 ton per hektare dengan rendemen hingga 7,51 persen.
Bupati Sukoharjo, Etik Suryani mengatakan, pengembangan tebu melalui kegiatan bongkar ratoon memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi petani.
“Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mendukung penuh program bongkar ratoon yang dilaksanakan Kementerian Pertanian,” ujar Etik.
Menurut Etik, program bongkar ratoon tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas tebu, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani.
“Kami siap bersinergi dan memastikan seluruh proses pendampingan di lapangan berjalan optimal,” ujar Etik.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam pernyataan resminya juga menegaskan bahwa program pengembangan tebu merupakan salah satu prioritas utama pemerintah untuk memperkuat kapasitas produksi nasional.
“Program bongkar ratoon dan perluasan tebu adalah langkah fundamental yang harus dilakukan secara konsisten di seluruh daerah sentra tebu,” ujar Amran.
Dengan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, petani, dan industri gula, kita optimis dapat mewujudkan swasembada gula.
Pelaksanaan Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Sukoharjo diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan produksi tebu, penguatan kemitraan antara petani dan pabrik gula, serta peningkatan kesejahteraan pekebun. (sat)




