PERKEBUNAN INDONESIA – KOLTIVA, Unilever, FCDO, dan EY mendukung PT Kudeungoe Sugata (Sugata) transformasi rantai pasok komoditas kakao di Aceh dengan mempercepat inovasi bagi petani melalui integrasi ketelusuran digital.
Inisiatif ini dilakukan mengingat produktivitas kakao petani yang menurun, usia pohon yang menua, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor ini. Padahal Industri kakao Indonesia memegang peranan penting bagi ekonomi lokal dan pasar global.
Inisiatif ini juga mempercepat inovasi bagi petani kecil melalui integrasi ketertelusuran digital, pelatihan pertanian cerdas iklim, serta model pembiayaan inklusif.
“Yang kami bangun bersama Sugata, Unilever, dan FCDO di Aceh bukan sekadar proyek, melainkan cetak biru masa depan industri kakao berkelanjutan,” ujar Executive Chairman of the Board KOLTIVA Joe Keen Poon dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (14/11/2025).
Menurut Keen Poon, petani kecil berhak mendapatkan lebih dari sekadar kepatuhan regulasi; berhak atas teknologi, pelatihan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang di pasar global.
“Dengan menghubungkan data lapangan secara real-time, pengambilan keputusan inklusif gender, dan pemantauan karbon dalam satu sistem, kami membuktikan bahwa regenerasi dan profitabilitas dapat berjalan beriringan, bahkan, keduanya adalah satu-satunya jalan ke depan,” jelas Keen Poon.
Country Lead Finance & Business Development Unilever Indonesia Jessica Pauline menilai, Sugata menunjukkan komitmen kuat untuk mendorong perubahan sosial dan lingkungan positif di sektor pertanian.
“Melalui TRANSFORM, kami tidak hanya memberikan hibah, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor agar dampak sosial dan lingkungan dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Pauline.
Sugata, perusahaan kakao berorientasi keberlanjutan dan pemulihan lingkungan, memimpin upaya pengembangan produksi kakao regeneratif dengan dukungan dari KOLTIVA dan mitra global — Unilever, Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) Inggris, serta EY — melalui program TRANSFORM Bestari Challenge.
Dengan menggabungkan pendekatan berbasis komunitas Sugata dan ekosistem teknologi KOLTIVA, termasuk KoltiTrace untuk ketertelusuran “farm-to-bar” dan KoltiSkills untuk pelatihan petani. Kolaborasi ini bertujuan membangun rantai nilai kakao yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mendukung pelestarian hutan.
Pada tahun 2024, program TRANSFORM: Bestari Challenge yang digagas oleh Unilever, FCDO, dan EY, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan hibah hingga £300.000 bagi pemenang.
Program akselerator ini memadukan pendanaan dengan dukungan bisnis strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Pada Oktober 2024, Sugata terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang utama, memperoleh dukungan untuk mengimplementasikan proyek kakao regeneratif di Aceh Tenggara selama 18 bulan.
Terletak di sisi timur Ekosistem Leuser seluas 2,6 juta hektare — salah satu hutan hujan tropis terakhir di dunia yang masih menjadi habitat bersama harimau, gajah, badak, dan orangutan Sumatra — Aceh menjadi jantung penting produksi kakao nasional.
Dengan luas tanam lebih dari 101.000 hektare dan produksi tahunan sekitar 41.000 ton, Aceh tercatat sebagai provinsi penghasil kakao terbesar keempat di Indonesia (Invest in Aceh, 2023).
Lanskap luas ini, yang menaungi sembilan sungai, tiga danau, serta 185.000 hektare lahan gambut dengan cadangan karbon mencapai 1,6 miliar ton, menyediakan air bersih bagi empat juta penduduk — layanan ekosistem yang ditaksir bernilai lebih dari US$600 juta per tahun.
Untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Sugata menggandeng KOLTIVA sebagai mitra pelaksana, menghadirkan keahlian dalam penerapan sistem ketertelusuran digital, pelatihan di tingkat petani, serta pengambilan keputusan berbasis data. (yer)




