PERKEBUNAN INDONESIA – Kakao menjadi salah satu komoditas nonmigas penyumbang surplus neraca perdagangan Indonesia September 2025 yang mencapai USD 4,34 miliar. Capaian ini menandai keberlanjutan tren surplus untuk 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Surplus kita naik USD 11,30 miliar dari USD 22,18 miliar pada Januari — September 2024 menjadi USD 33,48 miliar pada Januari — September 2025,” ungkap Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (06/11/2025).
Budi menyebutkan, perolehan surplus September 2025 juga menambah surplus secara kumulatif periode Januari – September 2025 menjadi USD 33,48 miliar.
“Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, yakni kakao dan olahannya (HS 18) yang naik hingga 68,75 persen,” ujar Budi.
Dua komoditas lainnya, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) naik 68,22 persen; serta berbagai produk kimia (HS 38) naik 51,08 persen (CtC).
Menurut Mendang, nilai surplus ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode Januari – September 2024 yang sebesar USD 22,18 miliar.
Lebih lanjut Mendag mengatakan, surplus pada Januari – September 2025 terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar USD 47,20 miliar dan defisit migas sebesar USD 13,71 miliar.
Sementara itu, surplus nonmigas pada Januari – September2025 sebagian besar disumbang perdagangan dengan beberapa negara mitra utama, antara lain, Amerika Serikat (AS) sebesar USD 15,70 miliar, disusul India USD 10,52 miliar, dan Filipina USD 6,45 miliar.
Pada September 2025, ekspor Indonesia mencapai USD 24,68 miliar atau turun 1,14 persen dibanding Agustus 2025 (MoM).
Namun, kata Budi, nilai ini naik 11,41 persen dibanding September 2024 (YoY). Kenaikan secara tahunan terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 12,79 persen meskipun ekspor migas tercatat turun 13,61 persen (YoY).
Secara kumulatif, total ekspor Indonesia pada pada Januari – September 2025 sebesar USD 209,80 miliar atau tumbuh 8,14 persen (CtC) dibanding periode yang sama pada 2024.
Peningkatan ekspor tersebut turut ditopang pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 9,57 persen (CtC) menjadi USD 199,77 miliar.
Sektor industri pengolahan mendominasi ekspor dengan kontribusi 80,00 persen, disusul pertambangan dan lainnya (12,74 persen); migas (4,78 persen); serta pertanian (2,48 persen).
Secara kumulatif, ekspor pertanian naik tertinggi sebesar 34,33 persen (CtC). Ekspor industri pengolahan juga naik sebesar 17,02 persen, namun sektor pertambangan dan lainnya turun 23,70 persen serta migas turun 14,09 persen. (fad)




