Perkebunanindonesia.com – Sebagai produsen utama minyak nilam dunia, Indonesia mesti memperluas akses pasar. Untuk itu keberlanjutan produksinya perlu dipastikan.
Demikian diungkapkan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari dalam Webinar di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Puji menegaskan minyak nilam memiliki posisi strategis yang harus dijaga. Indonesia memiliki peluang besar sekaligus tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan produksinya.
“Industri parfum, kosmetik, aromaterapi, dan farmasi mengandalkan pasokan ini. Kita harus menjamin kualitas sekaligus memperluas akses pasarnya,” ungkap Puji.
Puji menyebutkan, ada tiga tantangan utama pengembangan nilam, yakni produktivitas yang belum optimal, mutu minyak yang masih bervariasi, serta rantai pasok yang rapuh.
“Dampaknya terasa pada nilai jual di pasar internasional. Riset pemuliaan, peningkatan teknik budidaya, dan pengembangan produk turunan bernilai tambah menjadi kunci,” ujar Puji.
Namun, kata Puji, upaya tersebut tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lembaga.
Puji menambahkan, BRIN telah memfokuskan riset minyak atsiri untuk memperkuat daya saing nasional.
Menurut Puji, kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas petani terus didorong agar terbentuk model produksi berkelanjutan yang memenuhi standar internasional sekaligus memperluas akses pasar.
Selain aspek teknis, Puji mengingatkan keberhasilan produksi nilam juga ditentukan oleh ekosistem sosial.
“Transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan kelembagaan sangat penting. Produksi yang berkelanjutan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesejahteraan petani,” jelas Puji.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto, menekankan pentingnya riset berkelanjutan.
Menurut Setiari, nilam telah lama menjadi andalan ekspor minyak atsiri, tetapi keberlanjutannya kini terancam penurunan produktivitas lahan, keterbatasan teknologi budi daya, dan fluktuasi harga.
“Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium. Inovasi harus turun ke lapangan, diterapkan oleh petani, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” kata Setiari.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama BRIN, Endang Hadipoentyanti, menyebutkan Indonesia menyumbang 80–90 persen produksi nilam dunia, dengan budi daya didominasi perkebunan rakyat di hampir seluruh provinsi. Data ekspor 2014–2023 menunjukkan tren positif, meski sebagian besar masih berupa bahan mentah.
Menurut Endang, penyakit layu bakteri menjadi ancaman serius karena mampu memusnahkan hingga 90 persen tanaman.
Untuk itu, lanjut Endang, pemuliaan menghasilkan varietas unggul Patchoulina 1 dan Patchoulina 2 yang lebih tahan penyakit dan memenuhi standar mutu SNI.
“Namun, pengembangan varietas unggul hanyalah salah satu mata rantai. Hilirisasi menjadi tantangan berikutnya,” ujar Endang.
Endang menekankan perlunya memperkuat pengolahan produk turunan agar nilai tambah tidak hanya dinikmati di luar negeri.
Beberapa UMKM di Kulon Progo, Madiun, dan Gianyar telah mengembangkan produk aromaterapi, skincare, hingga kesehatan, meski promosi dan pasarnya masih terbatas.
“Pasar harus dijaga kontinuitasnya. Produk turunan nilam bisa menjadi penggerak ekonomi daerah bila ditopang dengan strategi pemasaran yang kuat. Ini bukan sekadar soal devisa, tetapi juga kedaulatan komoditas atsiri bangsa,” pungkas Endang. (fad)





https://shorturl.fm/ngQub