Perkebunanindonesia.com – PTPN IV PalmCo tegaskan kehadiran para petani sawit memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.
Demikian diungkapkan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa saat mengundang puluhan petani kelapa sawit dari berbagai daerah di Indonesia di Jakarta, Senin (18/8/2025).
“Bapak ibu adalah pejuang masa kini, yang melalui kebun sawit masing-masing, telah berkontribusi banyak buat negeri ini,” ujar Jatmiko.
Menurut Jatmiko, melalui produksi tandan buah segar yang diolah menjadi crude palm oil (CPO) dan berbagai produk turunannya, para petani tidak hanya berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
Petani juga, lanjut Jatmiko, berkontribusi dalam energi di dalam maupun luar negeri, dani juga membuka lapangan pekerjaan serta menghasilkan devisa untuk negara.
Jatmiko mengatakan, pihaknya ingin menyatukan visi pekebun sawit small holders, terutama dalam kondisi tantangan industri edible oil (minyak yang dapat dimakan) global hari ini.
Menurut Jatmiko, Indonesia tidak boleh terlena dengan status sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Jatmiko menyebutkan, tingkat pertumbuhan per tahun CPO Indonesia selama rentang 5 tahun terakhir cenderung stagnan. Hanya 1,04 persen.
“Itu di bawah CAGR minyak nabati lain seperti kedelai (soybean) di 2,98 persen atau bahkan rapeseed yang mampu menembus 6,25 persen,” ungkap Jatmiko.
Menurut Jatmiko, kedudukan sawit sebagai yang terproduktif dan termurah, sangat berpotensi disalip komoditas lain.
“Itu tentunya akan berisiko, tidak hanya bagi industri sawit nasional itu sendiri, namun juga untuk ekonomi bangsa hingga kesejahteraan petaninya,” kata Jatmiko.
Maka dari itu, lanjut Jatmiko, sebagai anugerah yang diberikan Tuhan bagi Indonesia, sawit sangat perlu dikelola agar manfaat besarnya mampu terus terpelihara.
“Itu tugas kita bersama untuk meningkatkan produktivitas sawit nasional secara berkesinambungan,” jelas Jatmiko.
Sehingga kedaulatan pangan dan energi yang menjadi salah satu cita-cita pendiri bangsa ini, dapat wujudkan bersama-sama.
Jatmiko menegaskan program Peremajaan Sawit Rakyat yang dicanangkan pemerintah bisa menjadi game changer dalam mendongkrak produksi minyak sawit nasional.
Karena, tambah Jatmiko, kebun sawit rakyat yang secara komposisi memiliki porsi terbesar dari luas perkebunan sawit di Indonesia, produktivitas CPO-nya berada jauh dibawah pelaku sawit lain akibat usia tanaman yang sudah tua.
Jatmiko menyebutkan, sawit rakyat protasnya hanya berkisar di 2 – 3 ton CPO/ha/tahun akibat usia tanaman yang kebanyakan tua bahkan rentan.
Namun, kata Jatmiko, realisasi PSR nasional sebagai solusinya, ternyata sangat jauh dari sasaran.
Rata-rata produktivitas sawit rakyat di bawah 50 persen pertahun. “Itu kenapa penting bagi kita bersama untuk memperluas dan mengakselerasi PSR,” tukas Jatmiko.
Jatmiko mengakui bahwa pihaknya memiliki tugas khusus mengenai PSR, yang sejatinya nyata dijalankan secara konsisten sejak dirinya memimpin PTPN V Riau tahun 2019 silam.
Jatmiko mengatakan, ada berbagai ‘jalan’ yang disiapkan dalam program yang disebut PTPN untuk sawit rakyat.
Pertama, jika ingin bermitra penuh dengan bisa single manajemen. Kedua, ingin membeli bibit (sawit unggul bersertifikat) saja secara swadaya, juga bisa.
“Yang ketiga, offtaker dengan pendampingan perusahaan, dimana kita tetap membantu mengurusi PSR nya, bisa,” ujar Jatmiko.
Terakhir, memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani dan kelembagaannya.
Menurut Jatmiko, program yang dijalankan tersebut, telah berbuah manis bagi petani sawit yang di Provinsi Riau.
Dalam kesempatan tersebut, hadir 42 petani dari 38 lembaga pekebun yang datang bersama pengurus Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR).
“Kami sangat bersyukur, pada momentum bulan kemerdekaan ini, kita dapat bersilaturahmi dengan perwakilan petani sawit yang ada di Nusantara,” ujar Jatmiko.
Sejumlah petani yang hadir membagikan pengalaman mereka pasca bermitra dengan PalmCo.
Dista Khoesnul petani sekaligus pengurus KUD Tunas Muda mengaku hidupnya berubah sejak bermitra dengan PalmCo.
“Dulu penghasilan pas-pasan, sekarang saya bisa menyekolahkan anak sampai sarjana,” kata Dista.
Demikian juga Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya Hadianto yang berada di Kecamatan Tandun Kabupaten Rokan Hulu.
Menurut Hadianto, single manajemen yang dijalankan PalmCo memang layak mendapat prediket the best role model dari Kementerian Pertanian.
“Luar biasa bermitra dengan PTPN IV PalmCo. Kita dikawal dari awal, mulai dari proses proposal sampai seluruh proses peremajaan (replanting) hingga menghasilkan,” terang Hadi.
HadiI menjelaskan, di Tanaman Menghasilkan Tahun Pertama mencapai 18 ton per hektare (ha) per tahun, TM II 21 ton dan TM III mencapai 23 ton.
PTPN IV mencatat, rekomendasi teknis petani dalam pengurusan PSR yang telah terbit hingga semester I 2025 mencapai 11 ribu ha.
Sementara dari 24 ribu yang diremajakan PalmCo, 14 ribu ha sudah menghasilkan dengan rata-rata produktivitas TBS di atas standar nasional.
Petani dan kelembagaannya juga semakin sejahtera dengan SHU di atas Rp6 juta perbulan dan saldo koperasi petani yang tembus Rp13 sampai Rp 19 pertahun. (har)




