Perkebunanindonesia.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan Harga Referensi (HR) biji kakao periode Agustus 2025 sebesar USD 8.234,70/MT. Penetapan ini turun sebesar USD 1.203,90 atau 12,76 persen dari bulan sebelumnya.
“Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan pasokan dari negara produsen utama seperti Pantai Gading dan Nigeria. Namun, peningkatan pasokan ini tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan,” ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana dalam keterangannya, Kamis (31/7/2025).
Hal ini, kata Tommy, berdampak pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Agustus 2025 yang menjadi USD 7.804/MT, turun USD 1.169 atau 13,03 persen dari periode Juli 2025.
Di sisi lain, penurunan HR dan HPE biji kakao tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap sebesar 15 persen.
Hal tersebut, tambah Tommy, sesuai Kolom 4 Lampiran Huruf B pada PMK Nomor 38 Tahun 2024. Selain itu, HPE produk kulit periode Agustus 2025 tidak berubah dari periode Juli 2025.
Penetapan HPE biji kakao, HPE produk kulit, dan HPE produk kayu tercantum dalam “Kepmendag Nomor 1693 Tahun 2025 tentang HPE dan HR atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar”.
Data Statistik Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan, harga biji kakao non fermentasi di sentra produsen utama di Indonesia periode Juni – Juli masih berfluktuasi dengan kecenderungan ada penurunan.
Di Kabupaten Pidie (Aceh) harga kakao turun dari Rp 86.170 per kilogram (kg) menjadi Rp 67.750/kg. Di Lampung Barat (Lampung) turun dari Rp 93.700/kg pada Juni dan Rp 81.550/kg pada penjualan di Juli 2025. Demikian juga di Tasikmalaya (Jawa Barat) harga kakao non fermentasi turun dari Rp 76.000/kg menjadi Rp 75.000/kg.
Hal yang sama juga di Pacitan (Jawa Timur) pada Juni 2025 harga kakao non fermentasi berkisar Rp 67.350/kg, namun pada Juli 2025 dihargai Rp 65.000/kg. Penurunan harga juga berlaku di Ende (NTT) dari Rp 78.500 menjadi Rp 75.670/kg.
Hal serupa juga terjadi di Balangan (Kalimantan Selatan). Pada penjualan Juni 2025 harga kakao non fermentasi Rp 96.364, namun pada Juli melorot menjadi Rp 80.000/kg. Demikian juga di Wajo (Sulawesi Selatan) turun dari Rp 97.050 menjadi Rp 84.950/kg.
Di Mamaju Tengah (Sulawesi Barat) harga penjualan kakao non fermentasi turun dari Rp 66.000/kg pada Juni 2025 menjadi Rp 60.000/kg pada Juli 2025.
Di Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) justru naik dari Rp 61.675 menjadi Rp 66.325/kg. Kenaikan juga terjadi di Kulon Progo (DIY) dari Rp 89.670 menjadi Rp 90.000/kg. Kenaikan harga kakao juga berlaku di Manokwari Selatan (Papua Barat) dari Rp 70.000/kg pada Juni menjadi Rp 75.000/kg pada penjualan Juli 2025. (fad)
Baca juga : Kementan Lakukan Penetapan Kebun Sumber Benih Kakao




