Perkebunanindonesia.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pacu hilirisasi minyak atsiri untuk menangkap peluang pasar global yang semakin meningkat.
Inspektur Jenderal Kemenperin Mohammad Rum menyebutkan, saat ini Indonesia menempati posisi ke-8 sebagai negara eksportir minyak atsiri dengan kontribusi 4,12 persen terhadap pasar dunia. Namun, sebagian besar produk yang diekspor masih berupa bahan baku mentah.
“Oleh karena itu, penguatan hilirisasi menjadi urgensi strategis agar nilai tambah dari sektor ini dapat dinikmati di dalam negeri dan memperkuat struktur industri nasional yang berdaya saing,” ujar M Rum seperti dikutip Rabu (9/7/2025).
Lebih lanjut M Rum mengungkapkan, komoditas nilam dan cengkeh yang berasal dari Indonesia telah menjadi tulang punggung industri parfum dan wellness global.
Hal ini, kata M Rum, menjadi peluang besar yang harus dioptimalkan melalui peningkatan daya saing dan nilai tambah di dalam negeri.
M Rum menyebutkan, industri minyak atsiri Indonesia terus menunjukkan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
Pada tahun lalu, nilai ekspor mencapai 259,54 juta dolar AS atau Rp4,2 triliun (kurs Rp16.253), dengan minyak nilam sebagai komoditas utama atau 54 persen dari total ekspor atsiri dengan nilai perdagangan sebesar 141,32 juta dolar AS atau Rp2,2 triliun.
Demikian juga dengan komoditas atsiri lainnya seperti minyak pala, cengkeh, cendana, dan serai wangi yang turut mendukung capaian ekspor.
Selain itu, lebih dari 3.000 unit penyulingan tersebar di sentra-sentra produksi seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Saat ini, kata M Rum, total kapasitas produksi minyak atsiri nasional mencapai 26.398 ton per tahun yang menyerap lebih dari 200 ribu tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari pengusaha UMKM dan petani kecil.
“Hal ini mencerminkan bahwa industri atsiri tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat melalui pemberdayaan masyarakat di daerah,” ungkap M Rum.
M Rum juga mengatakan, pada 2024 nilai pasar global minyak atsiri mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Diproyeksikan pertumbuhan pasar minyak atsiri terus meningkat seiring berkembangnya preferensi konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan,” kata M Rum.
M Rum mengatakan, tren global seperti green beauty, clean label, serta permintaan terhadap produk tersertifikasi organik dan berdaya telusur (traceable), semakin memperkuat posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok dunia. (fad)





Comments 1