Perkebunanindonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan International Coconut Community (ICC) menjalin kerjasama memperkuat riset pengembangan benih kelapa unggul melalui pendekatan bioteknologi, termasuk teknik in vitro, kajian metabolomik, dan analisis stabilitas genetik.
Melalui kolaborasi yang ditandatangani di Gedung BNC BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno Cibinong, pada Kamis (26/06/2025), ini diharapkan output riset yang dihasilkan akan berdampak nyata dalam mendukung kemajuan industri kelapa di Indonesia.
“Penguatan sektor perkebunan ini sangat penting khususnya kelapa, dalam mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional,” ujar Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRBun) BRIN Setiari Marwanto seperti dikutip Rabu (3/7/2025).
Menurut Setiari, pengembangan kelapa tidak cukup hanya mengandalkan intensifikasi lahan dan peremajaan kebun, namun juga diperlukan dukungan teknologi dalam penyediaan benih unggul yang berkelanjutan.
“Tantangan utama dalam pengembangan kelapa terletak pada keterbatasan benih unggul,” tukas Setiari.
Untuk mengatasinya, kata Setiari, pemerintah mendorong dua pendekatan utama, yaitu intensifikasi kebun baru dan peremajaan tanaman kelapa yang rusak.
“Dukungan teknologi dari para periset di BRIN juga sangat penting untuk merealisasikan penyediaan benih unggul yang berkelanjutan,” tegas Setiari.
Menurut Setiari, ke depan, tantangan keberlanjutan pasokan tetap perlu diantisipasi melalui penguatan enam komoditas strategis, termasuk kelapa, kopi, kakao, lada, dan bawang. Kelapa merupakan satu dari enam komoditas strategis yang menjadi fokus pembangunan pemerintah hingga 2026
BRIN dan ICC juga mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk mempercepat perbanyakan vegetatif tanaman unggul secara massal, dengan tetap mempertahankan sifat genetiknya.
Penelitian turut mencakup identifikasi senyawa fitohormon alami seperti auksin dan sitokinin dalam air kelapa, untuk mendukung pertumbuhan tanaman, serta analisis keragaman genetik guna memastikan kestabilan sifat unggul.
Selain memperkuat riset, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari langkah strategis membangun jejaring kerja sama internasional di sektor kelapa.
Dalam waktu dekat, BRIN dan ICC akan menyelenggarakan kongres sebagai wadah penguatan kolaborasi global dan pertukaran pengetahuan.
Direktur ICC Aluthwala Hewa Nuwan Chinthaka menyampaikan rasa bangga dan kehormatan atas keterlibatannya dalam kerja sama ini.
“Ini merupakan suatu kehormatan dapat hadir, menyaksikan, dan menjadi salah satu penandatangan dalam perjanjian kerja sama,” ujar Chinthaka.
Selain itu, kata Chintaka, juga sebagai pencapaian penting dalam distribusi massal dan upaya kolektif untuk memajukan kerja sama ilmiah. “Demi kepentingan pemerintah, petani, peneliti, dan komunitas internasional,” ujarnya.
ICC juga memberikan apresiasi tinggi kepada BRIN, karena dengan terjalinnya kemitraan strategis ini, masa depan sektor kelapa Indonesia dan pengembangan ilmu pengetahuan internasional kian cerah. Membuka peluang kolaborasi global demi keberlanjutan dan kesejahteraan bersama.
Sementara itu, Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara pendiri ICC, bersama Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan India.
“Saat ini kami memiliki empat konsentrasi utama dalam pengembangan kelapa, yaitu konservasi, pemuliaan (breeding), perlindungan tanaman, dan satu bidang lainnya yang tak kalah penting. Kami bersyukur kelapa telah menjadi salah satu fokus riset BRIN,” ungkap Jelfina. (far)





Comments 2