JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi size reduction untuk minyak atsiri dari serai wangi, cengkeh, dan eucalyptus.
“Inovasi ini telah dipatenkan, termasuk mesin semi otomatis dan metode pembuatannya,” ungkap Rita Noveriza dari Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) BRIN dalam sebuah webinar, beberapa waktu lalu.
Rita menerangkan salah satu penerapan Teknologi Size Reduction adalah teknologi nanoemulsi.
Teknologi ini merupakan tetesan dengan ukuran 50–500 nanometer, yang sangat efektif sebagai sistem penghantar senyawa bioaktif dalam industri pertanian dan farmasi.
“Nanoemulsi meningkatkan efektivitas pestisida dan efisiensi formulasi pupuk. Proses ini menggunakan metode partikelisasi dengan alat seperti magnetic stirrer,” jelas Rita.
Kepala Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN, Achmat Sarifudin menututkan, riset terkait teknologi size reduction telah dilakukan sejak masa LIPI.
Pengembangan teknologi itu melalui berbagai alat seperti chopper buah, chopper milling, crush better meal, hingga high-speed grinting dan liquid-based size reduction.
Saat ini, kata Achmat, teknologi colloid milling berbasis cairan tengah dalam tahap pengembangan.
“Teknologi size reduction tidak hanya bernilai secara akademik, tetapi juga memiliki prospek besar untuk diaplikasikan di dunia industri, termasuk pengembangan nano biopestisida,” ujar Achmat.
Size reduction sendiri merupakan proses mengecilkan ukuran material dari makro ke mikro atau bahkan nano.
Proses ini meningkatkan luas permukaan partikel per satuan berat, sehingga mempercepat reaksi kimia dan meningkatkan efisiensi dalam proses industri.
Achmat menambahkan, BRIN mendorong kelompok riset untuk mengembangkan teknologi size reduction dari sisi manufaktur maupun proses, serta melakukan modifikasi sifat fisika-kimia untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
PRTTG BRIN berkomitmen untuk menjalin kolaborasi dengan mitra industri dan manufaktur dalam pengembangan dan penerapan teknologi ini.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Mochamad Bagus Hermanto menjelaskan, tujuan pengecilan ukuran mencakup peningkatan luas permukaan, kemudahan pencampuran dan pemisahan, efisiensi proses, serta menghasilkan bentuk fisik sesuai kebutuhan.
Menurut Bagus, teknologi size reduction berperan penting dalam berbagai bidang, seperti farmasi, nanoteknologi, rekayasa material, hingga teknologi pangan.
Bagus menguraikan berbagai teknik dan alat yang digunakan di bidang teknik mesin, pangan, dan pertanian, seperti grinding, milling, slicing, crushing, pulping, hingga wet dan ball milling untuk beragam komoditas.
Dalam bidang teknik pertanian, salah satu keberhasilan pemanfaatan size reduction adalah pengolahan tanaman porang yang dikembangkan bersama Balitbangprov Jatim dan Bappeda Jombang melalui skema Matching Fund sejak 2013. (fad)




