Perkebunanindonesia.com – Teknologi perbenihan maju dan pengelolaan tanah presisi menjadi dua pilar penting dalam menjaga keberlanjutan sawit Indonesia,
“Teknologi perbenihan maju dan pengelolaan tanah presisi menjadi dua pilar penting dalam menjaga keberlanjutan sawit Indonesia,” ungkap
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Setiari Marwanto, dikutip Rabu (22/10/2024).
Setiari mengatakan, kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan strategis yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Namun, lanjut Setiari, kesenjangan antara hasil aktual dan potensi tanaman menjadi tantangan utama yang harus dijawab dengan pendekatan ilmiah dan inovatif.
Menurut Setiari, riset perbenihan unggul akan menentukan arah masa depan industri sawit yang adaptif terhadap perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya lahan.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN Puji Lestari menambhkan, riset kelapa sawit harus mendapat dukungan penuh karena perannya yang sangat strategis dalam ekonomi nasional.
“Produktivitas sawit kita masih jauh dari potensi genetiknya,” tegas Puji dalam webinar EstCrops_Corner#20.
Untuk itu, lanjut Puji, riset dan inovasi berperan penting dalam menciptakan sistem produksi yang efisien dan berkelanjutan.
Puji menyoroti bahwa pengelolaan lahan berbasis Best Management Practices (BMP), seperti pemupukan 4T (tepat jenis, dosis, waktu, dan tempat), penggunaan pupuk organik, biochar, serta konservasi tanah dan air, terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun, kata Puji, tantangan sosial-ekonomi di tingkat lapangan masih menjadi kendala signifikan.
“Lemahnya kelembagaan petani, rendahnya adopsi teknologi, dan fluktuasi harga tandan buah segar (TBS) menjadi hambatan utama yang harus kita jawab dengan kolaborasi riset dan kebijakan yang kuat,” ujar Puji.
Puji juga menekankan pentingnya inovasi bahan tanam unggul. Program pemuliaan, teknik kultur jaringan, serta penerapan bioteknologi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru.
“Kualitas bahan tanam menentukan daya saing industri sawit nasional. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar inovasi ini dapat diimplementasikan secara luas,” terang Puji.
Keterbatasan lahan subur akibat alih fungsi lahan dan meningkatnya laju deforestasi menjadi tantangan utama dalam peningkatan produktivitas sawit.
Lahan kering masam sendiri tersebar luas di Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Jenis tanah seperti Ultisols, Oxisols, dan Inceptisols mendominasi kawasan ini, dengan karakteristik alami yang masam, miskin hara, berstruktur lemah, dan rentan erosi.
Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa LKM berpotensi besar untuk dioptimalkan melalui pendekatan intensifikasi. (far)




