Perkebunanindonesia.com – Integrasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan tanaman pangan seperti padi gogo di Sulawesi Tenggara diharapkan tidak hanya menghasilkan hasil jangka panjang dari sawit. Namun bermanfaat bagi petani secara ekonomi jangka pendek melalui tanaman sela.
Demikian diungkapkan Sekretaris Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinisi Sulawesi Utara (Sultra) Iklas Landu dalam pembukaan Workshop Integrasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan Tanaman Pangan (Padi Gogo)” di Kendari, 14–16 Agustus 2025.
Wokrshop bertujuan sebagai upaya memperkuat sektor perkebunan berkelanjutan dan mendukung ketahanan pangan nasional diselenggarakan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berkolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Iklas menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan perkebunan yang adil, berkelanjutan dan berdaya saing.
Menrut Iklas, pengembangan sawit di Sulawesi Tenggara memiliki peluang yang besar, namun juga menghadapi berbagai tantangan seperti sengketa lahan, penggunaan benih ilegal, serta keterbatasan pembiayaan.
“Melalui integrasi program PSR dengan tanaman pangan seperti padi gogo, kami harapkan petani tidak hanya memperoleh hasil jangka panjang dari sawit, tetapi juga manfaat ekonomi jangka pendek melalui tanaman sela,” papar Iklas.
Iklas menyebutkan, hingga akhir 2024, luas lahan sawit rakyat di Sulawesi Tenggara telah mencapai lebih dari 21.396 hektare (ha) dengan melibatkan lebih dari 11.000 petani.
Hal tersebut, lanjut iklas, merupakan sebuah pencapaian signifikan yang mencerminkan antusiasme masyarakat terhadap sektor ini.
Namun, Iklas mengingatkan, keberhasilan ini harus dibarengi dengan sistem budidaya yang baik dan dukungan kelembagaan yang kuat.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan DPP APKASINDO, Suhendrik dan Kawali Tarigan, perwakilan BPDP secara daring, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra.
Para Dekan Fakultas Pertanian dari Universitas Halu Oleo, Universitas Muhammadiyah, dan perguruan tinggi lainnya di Sultra, Ketua APKASINDO Sultra, Agus Imam Saputro, Serta perwakilan koperasi dan petani kelapa sawit se-Sulawesi Tenggara.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Perkebunan juga memberikan apresiasi tinggi terhadap peran APKASINDO dan BPDP dalam mendampingi petani sawit, mendorong penggunaan benih bersertifikat, serta meningkatkan kapasitas SDM perkebunan.
Iklas mengatakan, kolaborasi ini sebagai bukti nyata bahwa transformasi sektor perkebunan hanya bisa dicapai dengan sinergi multipihak.
“Saya berharap kegiatan ini dapat melahirkan ide-ide segar, semangat baru, dan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem sawit rakyat di Sultra. Bukan hanya sebagai penghasil sawit, tetapi sebagai simbol keberhasilan kolaborasi dalam mengelola kekayaan alam secara berkelanjutan,” tutupnya.
Kegiatan workshop ini juga diisi dengan sesi diskusi teknis, pemaparan program integrasi PSR dan tanaman pangan, serta berbagi pengalaman antarpetani dan pelaku usaha perkebunan dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani. (*)




