PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perindustrian mempercepat hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam seperti kelapa dengan implementasi tungku beehive. Tingkat efisiensi tinggi.
“Penggunaan teknologi seperti tungku Beehive ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/4/2026)
Menurut Agus, pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri nasional, khususnya di tengah tantangan global.
“Di tengah dinamika yang membutuhkan kecepatan produksi, industri dalam negeri perlu meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal,” ujar Agus.
Menperin menegaskan, transformasi teknologi di sektor industri kecil dan menengah (IKM) merupakan bagian dari strategi memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong hilirisasi komoditas berbasis sumber daya alam dalam negeri.
“Pemanfaatan teknologi yang tepat akan mendorong peningkatan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing industri nasional, termasuk industri berbasis komoditas kelapa yang memiliki potensi besar di pasar global,” jelas Menperin Agus.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui implementasi teknologi tungku Beehive oleh (BSPJI) Manado kepada pelaku IKM arang tempurung kelapa di Desa Rumengkor, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Teknologi tungku Beehive yang diterapkan BSPJI Manado merupakan metode karbonisasi modern yang mampu menghasilkan proses pembakaran lebih stabil dan efisien.
Dengan kapasitas bahan baku sekitar 4 ton tempurung kelapa per batch, teknologi ini mampu menghasilkan rendemen 28–30 persen dengan kadar air rendah sekitar 5 persen.
Efisiensi tersebut jauh lebih baik dibandingkan metode konvensional yang cenderung boros energi dan menghasilkan kualitas produk yang tidak seragam.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa transformasi layanan jasa industri saat ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keberlanjutan industri.
“Transformasi layanan ini menjadi strategi untuk membangun ekosistem industri yang lebih terstandar, efisien dalam penggunaan energi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor,” jelas Emmy.
Sementara itu, Kepala BSPJI Manado Soni Pitriajaya mengemukakan, implementasi tungku Beehive merupakan langkah nyata dalam mempercepat hilirisasi komoditas kelapa di tingkat IKM sekaligus menjawab tantangan efisiensi produksi.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi standar baru bagi IKM arang tempurung kelapa. Dengan proses yang lebih efisien, pelaku industri tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu menghemat penggunaan energi dan meningkatkan kualitas produk agar kompetitif di pasar global,” tutur Soni.
Apalagi, Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah penghasil kelapa utama memiliki potensi besar dalam pengembangan industri turunan berbasis kelapa.
Pemanfaatan tempurung kelapa menjadi arang bernilai ekspor diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat. (fad)




