PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit ke China.
Sebanyak 28 Ton lidi sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Aceh dikumpulkan dan diusahakan oleh para petani sawit serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Koperasi anggota ASPEKPIR.
Lidi sawit merupakan hasil dari rangkaian kegiatan program pemberdayaan UMKM dan Koperasi yang telah diselenggarakan ASPEKPIR dan BPDP menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional.
Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat mengatakan, pihaknya telah lama melakukan kegiatan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit.
Menurut Anwar, lidi sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat dikerjakan oleh pelaku UMKM di daerah.
“BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujar Anwar Rabu (17/6/2026)..
Keberhasilan ekspor perdana lidi sawit ini menunjukkan bahwa sawit adalah komoditas yang inklusif karena manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi hingga pelaku ekspor.
“Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” jelas Anwar.
Sementara itu Ketua Umum ASPEKPIR Setiyono mengungkapkan, pelepasan ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dilaksanakan ASPEKPIR bersama BPDP di sejumlah daerah di Riau dan Sumatera Utara.
Setiyono menyebutkan, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Manfaatnya kemudian akan dirasakan kurang lebih 2.800 anggota koperasi tersebut.
Keterlibatan koperasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis limbah sawit mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi petani.
“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” ujar Setiyono.
Setiyono berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan. (har)




