JAKARTA, perkebunanindonesia.com- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memdorong pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri yang berdaya saing tinggi.
Kepala Pusat Riset Agroindustri, BRIN, Taufik Hidayat mengungkapkan, sagu adalah komoditas lokal Indonesia dengan potensi besar sebagai pangan dan bahan baku industri non-pangan, seperti biomaterial dan farmasi.
“Untuk itu Pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri yang berdaya saing tinggi,” ujar Taufik dalam webinar Agroinfuture, seperti dikutip Sabtu (31/5/2025).
Taufik berharap akan terjadi transformasi, terobosan, dan pendekatan baru dalam membangun sistem hilirisasi produk pertanian, khususnya sagu, yang kokoh dan berkelanjutan.
Menurut Taufik, sistem ini harus didorong oleh riset dan inovasi yang unggul. Hilirisasi tersebut juga bersifat inklusif, disertai pendampingan yang memadai, melibatkan mitra strategis, serta dilakukan melalui kolaborasi yang erat.
“Implementasi bersama dapat diwujudkan guna membangun agroindustri sagu yang memiliki daya saing tinggi,” ujar Taufik.
Perekayasa Ahli Madya PRA BRIN, Sabirin menuturkan, riset dan pengembangan pati sagu menjadi Partially Pregelatinized Sago Starch sebagai ingredien dan aplikasinya telah dilaksanakan oleh PRA-BRIN pada tahun 2022 hingga 2025.
Proses pembuatannya, lanjut Sabirin, dimulai dari bahan baku pati sagu yang diekstrusi dengan pengaturan suhu, kadar air, dan kecepatan ulir tertentu hingga sebagian tergelatinasi.
Kemudian, kadar air diturunkan melalui penjemuran hingga mencapai tingkat yang diinginkan.
Selanjutnya produk ini dihaluskan dan dianalisis menggunakan unit ekstruder (mini twin screw Extruder Rheomex PTW 24), mixer, Fourier Transform Infrared (FTIR), Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), dan peralatan lainnya.
“Hasil riset ini telah dipatenkan pada 31 Juli 2023, memperoleh lisensi dengan pihak swasta pada 18 November 2024, dan dipublikasikan dalam Jurnal Food Measurement and Characterization pada 4 April 2024,” ungkap Sabirin.
Direktur PT Bangka Asindo Agri Fidrianto mengatakan, hingga kini belum ada lembaga yang dapat mensertifikasi sagu sebagai produk organik.Hal ini merupakan tantangan bagi BRIN.
“Saat ini, saya masih menggunakan label natural, karena permintaan terhadap produk berlabel organik dari luar negeri sangat tinggi, terutama saat mengikuti pameran,” jelas Fidrianto.
Menurut Fidrianto, potensi sagu dari Sumatra hingga Papua sangat besar. Pabrik di Papua dan Bangka menjadi model pengelolaan yang sukses, dengan pengolahan singkong menjadi pati tapioka dan sagu menjadi pati sagu. (far)




