PERKEBUNAN INDONESIA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa harga beras harus sama dan sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di seluruh Indonesia.
“Kami cek, kemarin katanya harga sampai Rp25 ribu, Rp30 ribu, Rp15 ribu. Sekarang beras sudah ada di gudang, stok baik. Tidak boleh lagi ada cerita harga Rp25 ribu, Rp17 ribu,” tegas Mentan Amran dikutip Selasa (11/8/2026).
Mentan Amran memerintahkan Bulog dan jajaran terkait menjaga stok serta memastikan tidak ada lagi lonjakan harga hingga Rp17 ribu – Rp30 ribu per kilogram akibat persoalan pasokan dan distribusi di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Alor.
Menurut Amaran, kuatnya stok beras nasional harus benar-benar dirasakan masyarakat hingga wilayah kepulauan melalui pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau.
“Gudang kami minta dipenuhi. Jangan sampai nanti ada kekosongan stok saat masyarakat membutuhkan beras,” kata Amran.
Menurut Mentan Amran, pemerintah memiliki kekuatan stok yang memadai untuk melakukan intervensi ketika terjadi kenaikan harga. Karena itu, beras yang tersedia harus segera dialirkan ke masyarakat ketika dibutuhkan, termasuk melalui pelaksanaan pasar murah.
“Kalau ada yang membutuhkan beras, keluarkan ke pasar. Lakukan pasar murah di mana dibutuhkan,” katanya.
Mentan Amran menyiapkan intervensi untuk memperkuat produksi pangan masyarakat agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah secara bertahap dapat dikurangi.
Pemerintah memberikan dukungan benih padi untuk pengembangan hingga 3.000 hektare serta pengembangan jagung seluas 3.000 hektare.
“Yang sekarang, beras sudah masuk. Yang kedua benih padi. Tadi minta, kami kasih untuk 3.000 hektare. Kemudian jagung juga 3.000 hektare,” ujar Amran.
Dukungan produksi tersebut akan diperkuat dengan penyediaan alat dan mesin pertanian serta pompa pada wilayah yang memiliki sumber air.
Mentan Amran menilai pengembangan padi dan jagung menjadi solusi yang dapat memberikan hasil relatif cepat bagi masyarakat karena dapat dipanen dalam hitungan bulan.
Di Jakarta beras premium seharga Rp 74.500 per 5 kilogram sejak sebulan menghilang di pasaran, terutama di mini market. Sedangkan beras seharga Rp 89.000 – Rp 104.500 per 5 Kg tersedia melimpah.
“Saya dengar pemerintah bilang sudah swasembada beras. Tapi kok harga beras yang 74.000 rupiah sudah susah ditemukan sejak sebulan ini,” ungkap Indarto, warga Jatiwaringin, Kota Bekasi. (sat)




