PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) siap untuk memitigasi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino.
“Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023, alhamdulillah kita lolos,” ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman dikutip Jumat (10/7/2026).
Menurut Amran, jika bulan Agustus sampai September memang musim kering. Sedangkan Juni itu awal musim kering. “Insya Allah pangan kita aman, terutama beras,” katanya.
Dalam laporan Bapanas, stok CPP dalam bentuk beras yang ada di Perum Bulog berada di angka 5,2 juta ton per 8 Juli.
Sementara untuk Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) tingkat provinsi tercatat total 7,34 ribu ton sampai akhir Juni lalu. Untuk CPPD tingkat kabupaten/kota total ada 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.
Sekretaris Utama (Sestama) Bapanas Sarwo Edhy memastikan pemerintah secara simultan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, terutama untuk membangun stok cadangan pangan yang kokoh.
“Kita harus tetap waspada menghadapi El Nino dengan cadangan pangan yang kokoh, produksi yang terus meningkat, distribusi yang semakin kuat serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan kita,” ujar Sestama Bapanas Sarwo.
Salah satu bukti nyata kesiapsiagaan tersebut, tambah Sarwo, Indonesia mempunyai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ada di Bulog saat ini mencapai 5,2 juta ton. Ada pula stok CPP dengan komoditas selain beras.
Adapun stok CPP dalam bentuk jagung pakan per 8 Juli masih terdapat sebanyak 188 ribu ton. Stok jagung pakan ini disalurkan untuk peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih ekonomis.
Selanjutnya, stok CPP dalam bentuk minyak goreng 1,1 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. CPP gula konsumsi masih ada sekitar 2,79 ribu ton yang juga ada di Bulog dan ID Food. CPP dalam bentuk daging ayam ada 38 ton di ID Food.
Sementara untuk komoditas yang sifatnya perishable atau mudah membusuk atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, Bapanas optimis mampu ditopang dari produksi pangan dalam negeri secara reguler. Hal ini karena adanya surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun.
Melansir dari Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, untuk cabai besar memiliki perkiraan produksi setahun ini di angka 1,51 juta ton dengan kebutuhan konsumsi setahun 929,27 ribu ton. Untuk cabai rawit produksinya bisa mencapai 1,5 juta ton dengan kebutuhan konsumsinya 913,61 ribu ton.
Untuk bawang merah produksinya setahun ini dapat mencapai 1,32 juta ton dengan kebutuhan konsumsi setahun 1,25 juta ton. Telur ayam ras produksi setahun di 6,98 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 6,47 juta ton. Daging ayam ras produksinya 4,89 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 4,02 juta ton.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan alasan kenapa mesti beras terlebih dahulu yang mencapai swasembada. Swasembada beras dapat menjadi tolak ukur dikarenakan beras merupakan porsi terbesar dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. (har)




