PERKEBUNAN INDONESIA – Program hilirisasi perkebunan melalui perbenihan dinilai mampu mendongkrak produksi kakao nasional hingga 10 persen. Diharapkan dapat memenuhi kebutuhan industri.
“Program hilirisasi kakao melalui perbenihan dari Kementerian Pertanian (Kementan) bisa meningkatkan produksi biji kakao sekitar 10 persen,” ujar Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdoellah ketika dihubungi perkebunanindonesia.com, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Soetanto, melalui program hilirisasi kakao data produksi menunjukkan adanya kenaikan produksi sekitar 20 ribu ton selama dua tahun terakhir
“Saat ini sedang dilakukan perbaikan kebun agar produksi meningkat. Di tingkat petani sudah mulai kelihatan perbaikan performance kebunnya,” ungkap Soetanto.
Lebih lanjut Soetanto menyebutkan, program hilirisasi kakao Kementan mencakup luas sekitar 300 ribu hektare sampai tahun 2029 di semua sentra utama kakao.
“Dari program tersebut mayoritas melalui kegiatan peremajaan, dan sebagian kecil perluasan atau konversi kembali ke kakao yang sebelumnya sempat dari kakao diubah ke komoditas lain,” jelas Soetanto.
Soetanto mengatakan, dampak kenaikan produksi dari program hilirisasi kakao dari Kementan belum dapat dihitung nilai rupiahnya.
“Karena hilirisasi yang dilakukan oleh Kementan adalah memperkuat penyediaan bahan baku guna diolah oleh industri,” kata Soetanto.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian kebutuhan biji kakao untuk industri terpasang masih kekurangan sebesar 200 ribu ton dari produksi yang ada.
Soetanto menyebutkan, kebutuhan biji kakao untuk industri sekitar 400 ribu ton, sehingga kekurangannya masih harus diimpor.
“Selama ini impor biji kakao rata-rata sebesar 200 ribu ton. Pernah sampai 250 ribu ton, tetapi tahun 2025 kurang dari 200 ribu ton,” ungkap Soetanto.
Saat ini luas areal kakao total 1,3 juta hektare dengan tanaman menghasilkan (TM) 800 ribu hektare. Sementara harga kakao global sekitar USD 4200 per ton. Supply dan demand masih normal.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya terus mempercepat program hilirisasi perkebunan rakyat yang mencakup areal seluas 870 ribu hektare di berbagai daerah.
“Perkebunan kita hilirisasi. Akselerasi hilirisasi dan tanam. Tanam kakao, kopi, mente, kelapa dan tebu,” kata Amran usai mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Percepatan hilirisasi dilakukan seiring dengan program penanaman berbagai komoditas perkebunan yang telah dimulai pada 2025 dan akan dilanjutkan hingga 2027. (yer)




