Perkebunanindonesia.com – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo berkomitmen mendukung peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“PalmCo berkomitmen menjadi mitra petani untuk memastikan keberlanjutan produktivitas dan kesejahteraan,” ujar Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa, dikutip Jumat (5/9/2025).
Menurut Jatmiko, PalmCo tidak hanya berperan sebagai pembeli hasil panen (offtaker), namun juga sebagai penggerak ekosistem sawit dari hulu ke hilir.
“Peningkatan produkitivitas sawit nasional adalah kunci. Tidak hanya bagi kemandirian pangan dan energi, tapi juga demi kesejahteraan petani yang kita dambakan,” imbuh Jatmiko.
Lebih lanjut Jatmiko mengatakan, pihaknya juga mendorong program peremajaan sawit rakyat, penyediaan bibit unggul bersertifikat, hingga penguatan kelembagaan petani.
Jatmiko menyebutkan, hingga Juli 2025, PalmCo tercatat telah membantu penerbitan rekomendasi teknis untuk 14.520 hektar (ha) kebun.
Sedangkan pencairan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang terealisasi seluas 13.864 ha senilai lebih dari Rp831 miliar, serta melaksanakan penanaman di 10.628 ha kebun sawit masyarakat.
Perusahaan juga mendistribusikan 5,7 juta bibit unggul untuk mendukung peremajaan di lahan 40.000 ha yang melibatkan lebih dari 20.000 petani.
Selain itu, kata Jatimiko, PalmCo mendampingi 90 koperasi petani sawit di berbagai daerah dengan pelatihan teknis, administrasi, dan manajemen budidaya.
Jatmiko mengungkapkan, dalam program sertifikasi minyak sawit berkelanjutan (RSPO), hingga 2024 telah diterapkan di lahan 1.889 ha melibatkan 869 kepala keluarga.
“Semua pencapaian tersebut akan sulit diwujudkan tanpa kolaborasi dengan banyak pihak. Mulai dari petani dan lembaganya sendiri, hingga pemerintah maupun asosiasi,” ujar Jatimiko.
Untuk itu, Jatmiko berharap kolaborasi dapat semakin kuat yang dampaknya pada akselerasi PSR itu sendiri.
SEVP Business Support PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menekankan pentingnya sinergi lintas pihak untuk meningkatkan daya saing sawit nasional.
“Penguatan ekosistem sawit tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi erat dengan pemerintah, asosiasi, dan pemangku kepentingan lain. Kami sudah membuktikannya,” ujar Bambang.
Salah satunya, kata Bambang, keberhasilan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Riau yang dimodernisasi sejak 2019.
Menurut Bambang, program PSR meningkatkan produktivitas kebun petani mitra secara signifikan. Pendapatan petani pun tercatat mencapai rata-rata Rp12 juta per bulan per kavling.
“Dampaknya bukan hanya pada kesejahteraan keluarga petani, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi desa secara lebih merata,” kata Bambang.
Bambang menambahkan, lebih dari 2.000 petani mitra kini tengah mempersiapkan diri memperoleh sertifikasi RSPO untuk memperkuat posisi mereka di pasar global.
Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan, mengapresiasi konsistensi PTPN IV dalam membangun kemitraan dengan petani.
Rusman menyebut komoditas sawit terbukti mampu mempercepat penurunan angka kemiskinan di wilayah sentra produksi.
“Petani sawit sekarang jarang yang miskin. Itu fakta. Sawit telah mengangkat kesejahteraan masyarakat dan berkontribusi pada penurunan kemiskinan nasional,” kata Rusman. (fad)




