a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Plus Minus Perbanyakan Kopi Secara Vegetatif dan Generatif

Plus Minus Perbanyakan Kopi Secara Vegetatif dan Generatif

30 Juni 2025
0
Share on FacebookShare on Twitter

Perkebunanindonesia.com – Perbanyakan tanaman kopi umumnya dapat dilakukan dengan vegetatif maupun generatif. Keduanya punya plus minum, apa itu?

“Dua cara dalam memperbanyak tanaman kopi, yaitu secara generatif dan vegetatif,” ujar Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nana Heryana dalam sebuah webinar.

Perbanyakan generatif menggunakan benih atau biji, sedangkan perbanyakan vegetatif menggunakan bagian tanaman

Kopi robusta umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan klon sebagai bahan tanaman. Sebaliknya, kopi arabika diperbanyak dengan benih dan dianjurkan menggunakan varietas tertentu.

Menurut Nana, perbanyakan secara generatif lebih umum digunakan karena lebih mudah dan singkat dalam menghasilkan bibit siap tanam dibandingkan metode vegetatif.

“Perbanyakan generatif dilakukan melalui pembibitan langsung di tanah dan menggunakan kantong plastik (polybag),” jelas Nans.

Menurut Nana, teknik pembibitan ini memiliki kelebihan seperti menghasilkan tanaman dengan perakaran kuat, biaya murah, umur tanaman lebih lama, serta memungkinkan menghasilkan varietas baru melalui persilangan.

“Namun, kelemahannya adalah tanaman baru belum tentu memiliki sifat yang sama dengan induknya, berbuah lebih lama, dan kualitas baru diketahui setelah berbuah,” jelas Nana.

Sementara itu, perbanyakan vegetatif dilakukan dengan teknik menyambung. Dibutuhkan batang bawah (onderstam) dan batang atas (entrijs).

Nana mengatakan, batang bawah harus tahan terhadap penyakit akar dan memiliki sistem perakaran kuat. Penyambungan dilakukan pada awal musim penghujan atau akhir musim kemarau.

“Keuntungan metode ini antara lain masa muda tanaman lebih pendek, lebih cepat berproduksi, dan sifat baik induk dapat diturunkan,” ungkap Nana.

Namun, kata Nana, metode ini memiliki kelemahan seperti sistem perakaran yang kurang kuat, biaya tinggi, waktu lebih lama, dan sulit diperbanyak dalam jumlah besar dari satu induk. (far)

Related Posts

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

BPDP, Ditjen Perkebunan dan PT CWE Perkuat Kompetensi Petani Sawit di Bengkulu

13 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Pemerintah terus mendorong petani kelapa sawit agar semakin mandiri dalam mengelola kebun sekaligus menekan biaya...

Salim Invomas Catat Kenaikan Produksi TBS dan CPO

Plt Dirjen Perkebunan: Peningkatan Produktivitas Tidak Selalu Buka Lahan Baru

23 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Heru Tri Widarto, menyebut peningkatan produktivitas tidak selalu harus dilakukan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Wamentan Sudaryono Sebut Indonesia Siap Perluas Ekspor

Wamentan Sudaryono Sebut Indonesia Siap Perluas Ekspor

21 Mei 2026
Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

Wamentan Saleh Mustafa Siap Perkuat Kedaulatan Pangan dan Berantas Mafia Pangan

6 Oktober 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.