Perkebunanindonesia.com – Perbanyakan tanaman kopi umumnya dapat dilakukan dengan vegetatif maupun generatif. Keduanya punya plus minum, apa itu?
“Dua cara dalam memperbanyak tanaman kopi, yaitu secara generatif dan vegetatif,” ujar Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nana Heryana dalam sebuah webinar.
Perbanyakan generatif menggunakan benih atau biji, sedangkan perbanyakan vegetatif menggunakan bagian tanaman
Kopi robusta umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan klon sebagai bahan tanaman. Sebaliknya, kopi arabika diperbanyak dengan benih dan dianjurkan menggunakan varietas tertentu.
Menurut Nana, perbanyakan secara generatif lebih umum digunakan karena lebih mudah dan singkat dalam menghasilkan bibit siap tanam dibandingkan metode vegetatif.
“Perbanyakan generatif dilakukan melalui pembibitan langsung di tanah dan menggunakan kantong plastik (polybag),” jelas Nans.
Menurut Nana, teknik pembibitan ini memiliki kelebihan seperti menghasilkan tanaman dengan perakaran kuat, biaya murah, umur tanaman lebih lama, serta memungkinkan menghasilkan varietas baru melalui persilangan.
“Namun, kelemahannya adalah tanaman baru belum tentu memiliki sifat yang sama dengan induknya, berbuah lebih lama, dan kualitas baru diketahui setelah berbuah,” jelas Nana.
Sementara itu, perbanyakan vegetatif dilakukan dengan teknik menyambung. Dibutuhkan batang bawah (onderstam) dan batang atas (entrijs).
Nana mengatakan, batang bawah harus tahan terhadap penyakit akar dan memiliki sistem perakaran kuat. Penyambungan dilakukan pada awal musim penghujan atau akhir musim kemarau.
“Keuntungan metode ini antara lain masa muda tanaman lebih pendek, lebih cepat berproduksi, dan sifat baik induk dapat diturunkan,” ungkap Nana.
Namun, kata Nana, metode ini memiliki kelemahan seperti sistem perakaran yang kurang kuat, biaya tinggi, waktu lebih lama, dan sulit diperbanyak dalam jumlah besar dari satu induk. (far)




