a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Palembang Dalam Jejak 115 Tahun Sawit Indonesia

Palembang Dalam Jejak 115 Tahun Sawit Indonesia

Oleh: Sumarjono Saragih*

18 Mei 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di masa awal, benih itu berakar dan tumbuh di Palembang. Tanah uji coba benih yang nyaris terlupa. Jejak itu ada dan nyata. Bahkan turut membawa Indonesia jadi raja sawit dunia yang kini menyumbang 57,49% dari total produksi minyak sawit dunia. Benarkah demikian? Mengapa bisa terjadi?

Tahun ini, Indonesia memasuki 115 tahun sejarah perkebunan sawit komersil. Sebuah perjalanan panjang yang dihitung sejak penanaman pertama. Tahun 1911, perkebunan komersil sawit perdana dimulai di Tanah Deli, Sumatera Timur. Bila mundur lebih jauh, kisah sawit Indonesia telah dimulai puluhan tahun sebelumnya.

Bermula pada tahun 1848, seorang Belanda bernama Dr. Pryce membawa empat benih kelapa sawit dari Afrika Barat. Kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor sekadar tanaman koleksi botani. Tak disangka, langkah itu melahirkan industri besar. Bahkan kemudian, oleh Presiden Prabowo pernah menyebutnya sebagai miracle crop. Tanaman ajaib.

Rekaman sejarah perlu dilihat, diuji dan sekaligus dimanfaatkan untuk modal kemajuan. Ada rekam jejak uji coba benih yang disebarkan ke berbagai wilayah Hindia Belanda. Tercatat Deli di Sumatera Timur kemudian disuarakan lebih bergema. Tak heran akhirnya Tanah Deli menikmati semua pujian dan keberuntungan. Namun di balik kisah itu, ada satu wilayah yang jarang disebut, bahkan nyaris dilupakan: Palembang dan Sumatera Selatan.

Dari catatan yang ada, sekitar tahun 1858, benih sawit dari Bogor ditanam di wilayah Karesidenan Palembang, di lahan sekitar 1,2 hektare (Van Heurn 1948). Hasilnya cukup mengembirakan. Pohon mulai berbuah pada tahun keempat dengan tinggi batang sekitar 1,5 meter. Lebih cepat dibandingkan habitat asalnya yang umumnya lebih lama.

Percobaan itu kemudian berlanjut dari Palembang ke Muara Enim hingga Ulu Musi (1859–1864). Artinya, Palembang dan Sumatera Selatan (di masa kini) bukan saja salah satu propinsi sentra sawit. Lebih dari itu, provinsi ini punya peran historis yang patut dijadikan bagian dari narasi modal pembangunan masa kini.

Tanah Deli kemudian tampil lebih menonjol dan menjadikan sawit sebagai modal pembangunan. Ini bisa jadi jadi inspirasi. Keunggulan teknis dan dukungan kolonial menjadikannya tonggak utama industri sawit komersil. Pada tahun 1911, perkebunan pertama dibuka di Sei Liput dan Tanah Raja, wilayah Sumatera Utara dan Aceh sekarang. Sejak saat itu, ekosistem industri sawit berkembang menjadi penopang ekonomi besar di Tanah Deli kemudian Indonesia.

Tulisan ini mencoba menghidupkan kembali jejak dan memori itu. Pohon sawit mungkin berdaun lebat di Tanah Deli. Tapi ada akar kuat di tanah Palembang. Data terkini menunjukkan bahwa Palembang dan Sumatera Selatan memiliki modal yang meyakinkan untuk melakukan revitalisasi (revitalize) dan imaji ulang (reimagine) atas jejak itu.

Data tahun 2024 tercatat, provinsi ini memiliki sekitar 1,5 juta hektare kebun sawit dari total 16.4 juta hektare sawit Indonesia. Dimiliki petani, pengusaha swasta dan BUMN. Jadi sawit bukan hanya soal bisnis dan industri.

Kini sudah jadi bagian denyut ekonomi masyarakat luas. Menjadi sumber nafkah jutaan pekerja, buruh tani, petani dan sederet sektor usaha informal pendukung. Sawit terbukti penggerak pembangunan dan menciptakan pusat ekonomi baru. Tak berlebihan menyatakan isi dompet wong kito ada paparan aroma sawit.

Di tengah perjalanan panjang tersebut, selain menghasilkan minyak sawit, juga melahirkan inovasi. Dari provinsi ini lahir salah benih sawit unggul dan dikenal luas. Ada benih D x P Sriwijaya dan D x P Tania Selatan.

Nama Sriwijaya adalah gambaran kejayaan, keunggulan dan kemasyuran. Kini menempel di benih sawit dengan sejumlah keunggulan. D x P Sriwijaya adalah hasil inovasi PT Bina Sawit Makmur, POSCO International Group. Buah ketekunan para peneliti Indonesia dan sentuhan midas Dr. Dwi Asmono.

Tak kalah membanggakan, benih D x P Tania Selatan. Memang tidak menempelkan kata Sriwijaya. Oleh karena itu, dalam satu kesempatan -untuk tujuan marketing dan branding– saya pernah mengusulkan tambahan menjadi D x P Tania Selatan (Sriwijaya).  Benih ini diproduksi oleh Wilmar Plantation Group.

Sebagai wong kito naturalisasi dan penggiat industri sawit GAPKI dan organisasi pengusaha APINDO, saya juga mencoba beberapa inisiatif nyata. Mewujudkan sawit berkelanjutan melalui perlindungan pekerja (decent work).

Pada tahun 2020, bersama Bupati Musi Banyuasin, Dr Dodi Reza Alex, secara kolaboratif mendeklarasikan MSPOI (Muba Sustainable Palm Oil Initiatives). Walau sangat awal, saat itu setidaknya kami sudah mencoba memperkenalkan satu inisiatif pendekatan ekosistem Jaminan Sosial Ketenagakerjaan untuk petani sawit.

Kemudian berlanjut tahun 2025 dengan GEBIE (Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast). Gerakan ini fokus pada perlindungan pekerja perempuan. Gerakan ini dipimpin senator muda anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Sumatera Selatan, dr Ratu Teny Leriva. Bukti nyata bahwa wilayah ini terus bergerak mewujudkan keberlanjutan (sustainability) sawit nasional.

Ini saat yang tepat bangkit menghidupkan catatan sejarah. Membangun narasi baru yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Bumi Sriwijaya modern. Dirgayahu 115 Tahun Sawit Indonesia. Melalui industri sawit, Palembang Sumatera Selatan turut wujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045.//

*Ketua APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sumatera Selatan
Chairman Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil)

Tags: GapkiPalembangsawitSumatera Selatan

Related Posts

Koperasi Karyawan Pilar Baru Kesejahteraan Pekerja

Koperasi Karyawan Pilar Baru Kesejahteraan Pekerja

16 Juli 2026

Apa ukuran hidup yang sejahtera? Banyak orang akan menjawab: gaji yang besar. Jawaban itu tidak keliru. Namun, dalam...

Di Lereng Toraja, Aroma Cita Rasa Khas Menjaga Nama Besar Kopi Arabika

Di Lereng Toraja, Aroma Cita Rasa Khas Menjaga Nama Besar Kopi Arabika

27 Juni 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Kabut pagi perlahan menyingkap hamparan pegunungan Toraja. Di antara rimbunnya pohon tamarillo, jeruk, alpukat, nangka,...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Kementan Perkuat Hilirisasi Sarang Burung Walet Nasional

Kementan Perkuat Hilirisasi Sarang Burung Walet Nasional

27 April 2025

COVID-19: The evolution of scams in Asia-Pacific

22 Maret 2025
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.