PERKEBUNAN INDONESIA – Lima varietas unggul baru kakao siap dikembangkan secara luas untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kakao nasional. Kementerian Pertanian siap fasilitasi hasil riset para peneliti.
“Varietas unggul yang sudah dihasilkan harus kita kembangkan secara masif agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi petani dan bangsa,” ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Selasa (9/6/2026).
Mentan Amran menegaskan, riset dan inovasi merupakan kunci untuk mempercepat transformasi sektor pertanian menuju swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligus mendorong hilirisasi komoditas strategis nasional.
“Penelitian harus menghasilkan sesuatu yang nyata untuk rakyat. Jangan berhenti di laboratorium atau jurnal, tetapi harus sampai ke petani, meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Mentan.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rubiyo mengatakan, pihaknya telah menghasilkan lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan dan dapat memberikan dukungan terhadap program hilirisasi kakao yang saat ini sedang didorong oleh Kementerian Pertanian.
Menurut Rubiyo, kolaborasi antara Kementan dan BRIN memberikan perhatian khusus terhadap inovasi yang dihasilkan para peneliti, khususnya yang dapat mendukung program hilirisasi pertanian.
“Pak Menteri menanyakan apakah ada inovasi teknologi yang dihasilkan dari penelitian yang dahulu berasal dari Kementerian Pertanian,” ujar Rubiyo.
lebih lanjut Rubiyo menuturkan, dirinya telah mengabdikan diri selama 35 tahun di lingkungan Kementerian Pertanian mengaku tersentuh dengan perhatian Menteri Pertanian terhadap para peneliti.
Menurut Rubiyo, salah satu varietas unggulan yang telah dihasilkan adalah BP 1 yang memiliki sejumlah kelebihan, antara lain ukuran biji yang besar, kandungan lemak tinggi, serta produktivitas yang mampu mencapai sekitar tiga ton biji kering per hektare per tahun.
Selain itu, tim peneliti juga menghasilkan varietas unggul lainnya, yakni RHS 1 dan RHS 2, yang memiliki fungsi penting sebagai sumber benih sekaligus mendukung pengembangan kakao hibrida untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.
Rubiyo menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi telah diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kakao nasional.
“Untuk BP 1 sudah menyebar di seluruh Indonesia. Sementara RHS 1 dan RHS 2 telah dikembangkan di tujuh provinsi. Ini merupakan peluang yang sangat baik karena varietas unggul tersebut sudah siap dimanfaatkan untuk pengembangan kebun induk, kebun benih maupun untuk kegiatan sambung pucuk atau grafting di tingkat petani,” jelas Rubiyo.
Rubiyo mengatakan, pengembangan varietas unggul kakao membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan para peneliti.
Dari tujuh provinsi yang telah mengembangkan varietas tersebut, sebagian besar melibatkan perusahaan yang turut berperan dalam mempercepat diseminasi teknologi kepada masyarakat.
“Kalau ingin penyebarluasan inovasi berlangsung secara masif, maka kolaborasi seperti ini sangat penting. Tujuannya agar Kementerian Pertanian dapat menghasilkan kakao dengan produktivitas tinggi, mutu yang baik, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan petani,” terang Rubiyo.
Ke depan, pengembangan varietas unggul kakao diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat hilirisasi perkebunan nasional, meningkatkan nilai tambah produk kakao, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani serta daya saing kakao Indonesia di pasar global. (sat)




