JAKARTA, perkebunanindonesia.com – Salah satu upaya konkret transisi energi yang ditempuh pemerintah adalah memperluas penggunaan energi terbarukan, seperti Biodiesel dengan campuran 40 persen biodiesel nabati berbasis minyak sawit dan 60 persen solar (B40) yang sudah berjalan sejak awal tahun 2025 maupun skema circular economy untuk mengolah sampah menjadi energi listrik.
Demikian diungkapkan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot di Jakarta, Selasa (29/4/2025).
Terkait itu, Yuliot mengatakan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri hijau menjadi kunci untuk mendukung keberhasilan program hilirisasi nasional.
Saat ini, menurut Yuliot, terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan vokasi dengan kebutuhan nyata dunia industri, khususnya industri hijau yang sangat membutuhkan keahlian di bidang keteknikan.
“Ada gap antara kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Ini menyebabkan lulusan kita kurang match dengan permintaan pasar kerja,” ujar Yuliot.
Yuliot merekomendasikan peningkatan dan pembaruan pengetahuan bagi para pengajar dan trainer agar sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, juga kebutuhan industri masa kini.
Menurut Yuliot, pembangunan database yang terintegrasi juga diperlukan untuk menyiapkan SDM yang siap menghadapi kemajuan industri hijau.
“Ini (pengajar dan trainer) membutuhkan perkembangan teknologi dan juga menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh industri. Salah satu yang kita perlukan juga adalah yang terkait dengan pembangunan database integrasi,” jelas Yuliot.
Langkah ini, kata Yuliot, sangat mendukung program hilirisasi yang telah menjadi prioritas pembangunan nasional.
Apalagi, lanjut Yuliot, pemerintah telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis yang mencakup 28 komoditas dengan proyeksi total investasi mencapai USD618 miliar hingga 2040.
Yuliot menyebutkan, sekitar 91 persen investasi ini terkonsentrasi di sektor ESDM, khususnya pada komoditas mineral, batubara, migas, dan energi terbarukan.
Proyeksi dampak ekonominya mencakup tambahan PDB sebesar USD235,9 miliar, nilai ekspor USD857,9 miliar, dan penciptaan lebih dari 3 juta lapangan kerja.
Hal ini menegaskan bahwa SDM yang kompeten merupakan fondasi penting dalam mendukung hilirisasi dan transisi energi. (sat)




