PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan mitra industri memperkuat riset tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) sebagai penyediaan bahan baku biodisel.
Komoditas perkebunan ini mulai diarahkan bukan sekadar sebagai sumber minyak nabati, tetapi sebagai bagian dari ekosistem bioenergi berkelanjutan yang dapat mendukung kebutuhan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Andes Hamuraby Rozak, mengatakan, pengembangan biofuel nyamplung membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar hasil riset dapat menjawab kebutuhan nyata sekaligus bergerak lebih cepat menuju implementasi.
“Pengembangan biofuel nyamplung membutuhkan kolaborasi yang terintegrasi, mulai dari penyediaan sumber daya genetik dan bahan baku, pengembangan teknologi, hingga pemanfaatan dan komersialisasi hasil riset,” ujar Andes dikutip Kamis (3/9/2026)..
Menurut Andes, keterlibatan industri menjadi faktor penting untuk menjembatani kapasitas riset dengan kebutuhan pengembangan biofuel pada skala implementasi.
Ketua PKR Biofuel Nyamplung BRIN–UGM, Prof. Wega Trisunaryanti menjelaskan, nyamplung memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku minyak nonpangan.
Tanaman ini memiliki potensi dari sisi produktivitas buah dan rendemen minyak, serta mampu tumbuh pada lahan marginal dan lahan terdegradasi.
Potensi tersebut, kata Wega, membuat pengembangan nyamplung dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan biodiesel sekaligus bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF.
Namun, lanjut Wega, target pengembangan tidak berhenti pada produksi biofuel. BRIN–UGM mendorong terbentuknya ekosistem bioenergi yang mengintegrasikan kepentingan energi, lingkungan, dan ekonomi.
“Kami melihat nyamplung bukan hanya sebagai sumber bahan baku biofuel, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang mengintegrasikan aspek energi, lingkungan, dan ekonomi,” ujar Wega.
Wega menambahkan, pendekatan tersebut dikembangkan melalui konsep arsitektur sirkular, yang menghubungkan biomassa di sektor hulu dengan proses konversi energi di hilir serta mengolah residu menjadi produk bernilai tambah. Roadmap riset mencakup penguatan sumber daya genetik, silvikultur, teknologi pengolahan minyak, hingga pemanfaatan limbah dengan konsep zero-waste.
Direktur Utama PT ABE Indonesia Berjaya, Eko Fajar Nurprasetyo, memaparkan rencana pengembangan perkebunan bioenergi berbasis nyamplung dan malapari (Pongamia pinnata), termasuk pengembangan kawasan agroforestri di Kalimantan Tengah.
Konsep yang dikembangkan mencakup rantai pasok mulai dari pembibitan, perkebunan, pusat pengumpulan, produksi minyak mentah nabati, hingga penyediaan feedstock untuk industri biodiesel dan SAF.
Eko menilai kepastian dan kontinuitas bahan baku merupakan salah satu kunci pengembangan industri biofuel. Karena itu, kolaborasi dengan BRIN dan mitra lainnya diperlukan agar pengembangan sumber bahan baku dilakukan secara berbasis riset, terukur, dan dapat diperluas ke skala industri.
Sementara itu, Direktur PT DaFa Teknoagro Mandiri, Nursyamsu Mahyuddin, menyoroti tantangan penyediaan bibit dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah kultur jaringan untuk memperbanyak bibit nyamplung dan malapari secara massal tanpa bergantung pada musim buah.
Kolaborasi BRIN dan DaFa mencakup penyediaan materi genetik, pengembangan protokol kultur jaringan yang tervalidasi, pengujian inokulasi Dark Septate Endophytes (DSE), pengembangan fasilitas penelitian, pertukaran data, publikasi, hingga pengelolaan kekayaan intelektual (HKI).
“Kultur jaringan memberikan peluang untuk memperbanyak bahan tanam unggul secara masal dan lebih terkontrol dengan tetap mempertahankan keunggulan genetik induknya.” kata Nursyamsu.
Menurutnya, penguatan sisi pembibitan menjadi penting agar kebutuhan bahan tanam untuk pengembangan nyamplung dan malapari dalam skala lebih besar dapat dipenuhi.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui penandatanganan Kerangka Acuan Kerja (KAK) antara Pusat Riset Botani Terapan BRIN, PT ABE Indonesia Berjaya, dan PT DaFa Teknoagro Mandiri. Kesepakatan ini menjadi landasan untuk menyusun dan melaksanakan tindak lanjut kerja sama dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama.
Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Imam Surya, menegaskan bahwa penandatanganan KAK bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk menerjemahkan hasil diskusi dan riset menjadi agenda kerja bersama.
“Penandatanganan KAK ini bukan menjadi akhir, tetapi menjadi titik awal untuk menerjemahkan hasil diskusi dan riset menjadi agenda kerja bersama yang konkret,” pesannya.
Dirinya berharap, kolaborasi tersebut dapat mempercepat pemanfaatan hasil riset sekaligus memperkuat rantai inovasi biofuel nyamplung dari hulu hingga hilir. (har)




