PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan pemanfaatan teknologi iradiasi gamma Cobalt-60 (Co-60). Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi biodiesel dari minyak jelantah.
Dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN Dhita Ariyanti, mengungkapkan, pengembangan energi alternatif semakin dibutuhkan seiring meningkatnya konsumsi energi dan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil.
Di Indonesia, kebutuhan energi yang terus meningkat dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga menjadi tantangan dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca.
Dhita melihat peluang pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi terbarukan. Minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga dan berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah menjadi biodiesel sehingga memiliki nilai tambah.
“Biodiesel memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil, antara lain menghasilkan emisi yang lebih rendah dan mudah terurai secara alami. Selain itu, biodiesel dapat membantu mengurangi peningkatan kadar CO₂ di atmosfer,” ujar Dhita dikutip laman brin.go.id, Selasa (18/8/2026).
Dalam penelitian tersebut, minyak jelantah dipilih sebagai bahan baku karena jumlahnya melimpah dan sering kali menjadi limbah yang mencemari lingkungan.
Selain itu, penggunaan minyak goreng secara berulang juga diketahui dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Pemanfaatannya sebagai bahan baku biodiesel menjadi solusi yang memberikan manfaat ganda yakni mengurangi limbah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
“Penggunaan minyak goreng berulang kali ini menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Untuk mengatasi masalah ini, limbah minyak goreng dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan baku produksi biodiesel,” terang Dhita.
Riset ini memanfaatkan sinar gamma dari sumber radioisotop Cobalt-60. Iradiasi tersebut menghasilkan radikal bebas yang mampu meningkatkan reaktivitas molekul sehingga proses pembentukan biodiesel berlangsung lebih cepat dan efisien tanpa memerlukan penambahan bahan kimia baru.
“Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan volume biodiesel secara konsisten seiring dengan penambahan dosis iradiasi,” jelas Dhita.
Dari bahan baku awal sebanyak 150 mL, tambah Dhita, penelitian ini mencatat hasil produksi biodiesel tertinggi mencapai 104,7 mL yang diperoleh pada paparan dosis iradiasi 35 kGy.
Analisis spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) yang dilakukan juga mengkonfirmasi terbentuknya gugus fungsional ester sebagai indikator utama biodiesel.
Pada dosis iradiasi 20 kGy dan 35 kGy, perubahan spektrum FTIR terlihat lebih nyata. Puncak-puncak kelompok fungsional seperti C-O, C=O, C-H, dan O-H menunjukkan perubahan intensitas yang signifikan dan sedikit pergeseran posisi.
Menurut Dhita, temuan ini menunjukkan bahwa iradiasi gamma dapat meningkatkan produksi biodiesel tanpa modifikasi bahan kimia tambahan.
Meskipun memberikan hasil yang positif, peneliti tetap menggarisbawahi kehati-hatian secara ilmiah bahwa studi ini masih bersifat pendahuluan.
Sebagai studi awal, klaim bahwa iradiasi mempercepat transesterifikasi harus didukung oleh data kuantitatif mengenai konversi, misalnya melalui pengujian instrumen GC atau ‘H-NMR. “Pada studi mendatang, dosis iradiasi perlu ditingkatkan hingga melebihi 35 kGy,” kata Dhita.
Hal ini, lanjut Dhita, diperlukan untuk mengetahui ambang batas ketika manfaat iradiasi tidak lagi optimal tanpa menurunkan kualitas biodiesel. Penelitian lanjutan juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keseluruhan proses.
Inovasi ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Selain menawarkan solusi pengelolaan limbah minyak jelantah yang lebih berkelanjutan, teknologi iradiasi gamma berpotensi meningkatkan efisiensi produksi biodiesel sehingga dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan bahan bakar ramah lingkungan di masa depan. (far)




