a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Kopi Indonesia Catat Potensi Transaksi Hampir Rp600 Miliar

World of Coffee 2026 (Ist)

Kopi Indonesia Catat Potensi Transaksi Hampir Rp600 Miliar

16 Juni 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Kopi Indonesia berhasil mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 34,7 juta atau setara Rp593,3 miliar pada ajang World of Coffee (WoC) 2026 di San Diego Convention Center, San Diego, Amerika Serikat (AS), pada 10–12 April 2026.

“Selama tiga hari pameran, Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 34,7 juta yang mencakup biji kopi mentah (green beans), kopi sangrai (roasted coffee), serta produk turunan kopi lainnya,” ungkap Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, Senin (15/6/2026).

Capaian tersebut, kata Ranitya, belum termasuk berbagai penjajakan dari permintaan informasi (business inquiries) yang berpotensi berkembang menjadi kontrak dagang dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut Ranitya, keikutsertaan Indonesia pada salah satu pameran kopi terbesar di dunia ini menjadi upaya memperluas akses pasar dan memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar AS.

Indonesia juga dapat memperkenalkan keragaman asal usul (origin) biji kopi, kualitas tinggi biji kopi, serta komitmen industri kopi Indonesia terhadap praktik produksi yang berkelanjutan.

Ranitya mengatakan, WoC 2026 menjadi titik temu pelaku industri kopi Indonesia dengan pasar AS untuk menavigasi kebijakan tarif dan peningkatan standar keamanan pangan.

Partisipasi Indonesia dalam pameran tersebut juga dapat menjawab tuntutan pasar AS terhadap keberlanjutan, transparansi, dan keterlacakan kopi.

AS merupakan importir kopi terbesar di dunia. Dengan nilai impor mencapai sekitar USD 12,8 miliar per tahun, Negeri Paman Sam sekaligus menjadi salah satu tujuan utama ekspor kopi Indonesia.

Ranitya mengungapkan, sekitar dua pertiga populasi dewasa AS mengonsumsi kopi setiap hari. Seiring hal tersebut, tren specialty coffee pun terus meningkat yang didorong preferensi terhadap kualitas, asal usul, dan pengalaman konsumsi yang lebih premium.

Paviliun Indonesia memfasilitasi berbagai kegiatan promosi dan penjajakan bisnis (business matching), mulai dari pertemuan business-to-business (B2B), coffee cupping, coffee tasting, hingga diskusi dengan pelaku industri kopi global.

“Sesi cupping menjadi salah satu sarana utama yang mempertemukan produsen Indonesia dengan calon pembeli internasional. Sesi ini juga memberi buyer kesempatan untuk mengevaluasi langsung kualitas dan karakteristik kopi Indonesia sesuai kebutuhan pasar,” kata Ranitya.

Paviliun Indonesia juga menghasilkan sejumlah peluang kerja sama yang akan ditindaklanjuti pascapameran. Terdapat dua penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI), masing-masing antara Gravfarm Indonesia dan Beaneka Coffee, serta KBF International Group dan Cartel Coffee Lab.

“KBRI Washington D.C. melalui Atdag RI bersama para pemangku kepentingan terkait akan terus memfasilitasi tindak lanjut berbagai kesempatan (business leads) untuk memastikan peluang dapat dikonversi menjadi transaksi ekspor yang konkret dan berkelanjutan,” kata Ranitya.

Sementara itu, produk yang ditampilkan meliputi biji kopi mentah seperti Gayo, Mandheling, Lintong, Java Preanger, Java Estate, Toraja, Kintamani, dan Flores Bajawa dari berbagai daerah penghasil kopi unggulan Indonesia.

Selain itu, peserta juga memamerkan biji kopi sangrai, specialty blends, dan coffee capsule. Juga dipamerkan berbagai produk pendukung industri kopi seperti gula aren dan gelas kertas untuk industri kafe dan ritel kopi. (fad)

Tags: Flores BajawaGayoJava PreangerkemendagKintamanikopiMandhelingTorajaWorld of Coffee (WoC) 2026

Related Posts

Harga Refensi Biji Kakao

Harga Referensi Biji Kakao Oktober 2026 Naik Tujuh Persen

3 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) tetapkan harga referensi (HR) biji kakao periode Oktober 2026 USD 6.057,87 per...

Produksi TBS Lonsum Semester I 2025 Turun Dua Persen

Harga Referensi CPO Oktober 2026 Naik Lagi

2 Oktober 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) periode Okteber 2026 mengalami kenaikan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Salim Invomas Catat Kenaikan Produksi TBS dan CPO

PalmCo Perkuat Tata Kelola Produksi Berbasis Data

26 Februari 2026
Kementan Gelontorkan Rp 55 Miliar untuk Pengembangan Kawasan Bawang Putih

Kementan Gelontorkan Rp 55 Miliar untuk Pengembangan Kawasan Bawang Putih

22 Agustus 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.