PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan keberhasilannya mengubah berbagai hasil riset terkait minyak atsiri, kemenyan, dan rempah-rempah Nusantara menjadi produk siap pakai melalui pendekatan sains dan teknologi.
Periset BRIN Aswandi mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas kemenyan dan rempah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk bernilai tambah tinggi.
“Selama ini citra kemenyan di masyarakat sering dikaitkan dengan hal-hal mistis atau pembakaran dupa sehingga nilainya kurang dihargai. Padahal aroma alami kemenyan sangat lembut, eksotis, dan memiliki manfaat aromaterapi yang besar,” ujar Aswandi dalam sebuah talkshow dikutip Selasa (9/6/2026).
Menurut Aswandi, Indonesia merupakan salah satu eksportir utama kemenyan mentah dunia dengan volume mencapai sekitar 5.000 ton per tahun yang dipasarkan ke berbagai negara seperti Singapura, India, Korea Selatan, dan Prancis.
Namun, sebagian besar komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk bahan baku sebelum diolah menjadi produk premium di luar negeri.
BRIN, kata Aswandi, telah berhasil mengembangkan dan mendaftarkan paten Signature Perfume berbasis ekstrak resin kemenyan.
Selain itu, tim peneliti juga menghasilkan inovasi parfum aromaterapi berbahan kombinasi cengkeh dan pala, reed diffuser, hingga serum wajah nano-emulsi anti-hiperpigmentasi berbasis bahan alami Nusantara.
“Salah satu formulasi tersebut bahkan berhasil masuk jajaran 20 besar kompetisi inovasi produk internasional, menunjukkan bahwa komoditas lokal Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar global,” ungkap Aswandi.
Di sisi lain, melalui pengembangan teknologi distilasi dan fraksinasi adaptif, BRIN berhasil meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi minyak atsiri baik pada skala laboratorium maupun penyulingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Teknologi tersebut menghasilkan minyak atsiri dengan mutu yang lebih konsisten, kandungan senyawa aktif yang lebih optimal, serta siap diolah menjadi berbagai produk komersial seperti roll-on aromaterapi, sabun transparan sereh, hingga inhaler berbasis minyak eukaliptus.
BRIN juga mengembangkan teknologi nano-emulsi yang memungkinkan senyawa aktif minyak atsiri terserap lebih cepat dan efektif.
Pendekatan ini telah menghasilkan sejumlah produk inovatif hasil kolaborasi dengan mitra industri dan UMKM, di antaranya Solid Perfume Aromatherapy bersama PT Nano Herbaltama Internasional serta sabun artisan berbahan ekstrak nanas lokal Prabumulih yang dikembangkan bersama UMKM Tanisani dari Sumatera Selatan.
BRIN juga membuka akses masyarakat dan pelaku industri terhadap berbagai fasilitas riset dan pengujian modern. Salah satunya adalah layanan analisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan standar mutu dan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi industri minyak atsiri melalui platform layanan ELSA BRIN. (far)




