a
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
22 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Semusim
  • Tahunan
  • Pasca Panen
  • Agribisnis
  • Lainnya
    • Penyegar
    • Market
    • Info Kebun
    • Benih
    • Teknologi
    • Regulasi
    • Etalase
    • Opini
No Result
View All Result
Perkebunan
No Result
View All Result
Mentan Sebut Sawit Tulang Punggung Perekonomian Nasional

dok Kementan

BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Dini Ganoderma pada Kelapa Sawit

9 Juni 2026
0
Share on FacebookShare on Twitter

PERKEBUNAN INDONESIA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengendalian penyakit Ganoderma pada kelapa sawit. Pengembangan ini dalam upaya memperkuat riset strategis di sektor perkebunan melalui pengembangan teknologi.

Hal tersebut menjadi bahasan dalam webinar EstCrops_Corner #26 bertema “Strategi Pengelolaan Ganoderma Menuju Industri Sawit Nasional Berkelanjutan”, Jumat (29/05).

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Siti Hardiyanti, memaparkan hasil riset awal terkait isolasi dan karakterisasi Ganoderma sp. sebagai salah satu patogen utama pada perkebunan kelapa sawit.

Siti menjelaskan, Ganoderma merupakan penyebab utama penyakit Basal Stem Rot/BSR  (busuk pangkal batang) dan Upper Stem Rot/USR (busuk batang atas) yang selama ini menjadi ancaman serius bagi produktivitas perkebunan sawit nasional.

Patogen tersebut menyerang sistem akar dan batang tanaman sehingga mengganggu pertumbuhan secara bertahap hingga menyebabkan kerusakan berat bahkan kematian tanaman.

“Ganoderma merupakan salah satu patogen penting pada perkebunan kelapa sawit. Keberadaannya dapat menurunkan produktivitas secara signifikan serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani maupun perusahaan perkebunan,” jelas Siti.

Menurut Siti, penyakit Ganoderma tergolong sulit dikendalikan karena sifat patogennya yang soilborne atau mampu bertahan lama di dalam tanah dan sisa tanaman terinfeksi. Kondisi tersebut menyebabkan penyebaran penyakit berlangsung secara perlahan namun terus-menerus di area perkebunan.

Siti mengatakan, dampak infeksi Ganoderma tidak hanya mengganggu penyerapan air dan unsur hara tanaman, tetapi juga menurunkan produksi tandan buah segar secara signifikan. Pada fase serangan lanjut, tanaman bahkan dapat roboh akibat pembusukan batang yang semakin parah.

Siti memaparkan bahwa gejala penyakit berkembang secara bertahap sesuai umur tanaman dan tingkat perkembangan infeksi. Pada tanaman muda, gejala awal ditandai dengan daun menguning, pertumbuhan terhambat, hingga kematian tanaman.

Sementara pada tanaman menghasilkan, infeksi terlihat melalui pelepah muda yang menguning, munculnya daun tombak, pelepah patah dan mengering, hingga tajuk tanaman yang tampak tidak normal.

“Pada fase lanjut, tubuh buah Ganoderma mulai muncul di pangkal batang yang mengalami pembusukan sehingga batang menjadi lunak dan tanaman berpotensi roboh,” jelas Siti.

Menurut Siti, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian Ganoderma adalah sulitnya mendeteksi infeksi pada fase awal. “Pada tahap awal infeksi, tanaman umumnya belum menunjukkan gejala visual yang jelas sehingga penyakit sering terlambat diketahui di lapangan,” ungkapnya .

Siti juga menguraikan tahapan isolasi dan karakterisasi Ganoderma sp. yang dilakukan di laboratorium. Proses dimulai dari pengambilan sampel tubuh buah yang masih muda, segar, dan bebas kontaminasi sebelum dilakukan isolasi menggunakan medium PDA.

Karakterisasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis untuk mengamati ciri tubuh buah, koloni, spora, serta hifa Ganoderma.

Selain itu, identifikasi molekuler menggunakan penanda ITS juga dilakukan guna melihat hubungan kekerabatan antar isolat berdasarkan asal daerahnya.

Pendekatan ini dinilai penting untuk memahami keragaman patogen serta mendukung pengembangan strategi pengendalian yang lebih efektif dan spesifik terhadap karakteristik isolat di berbagai wilayah perkebunan sawit Indonesia.

“Pengembangan teknologi deteksi dini menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit,” ujar Siti.

Selain itu, pendekatan berbasis data diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat sehingga produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional tetap terjaga secara berkelanjutan. (har)

Tags: BRINGanodermasawit

Related Posts

Tandan Kosong Sawit Berpotensi Besar untuk Perangkat Superkapasitor

BRIN Dukung Pemanfaatan Biomassa Kelapa Sawit sebagai Sumber Energi

25 September 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan boiler biomassa berbahan bakar tandan kosong kelapa sawit...

BRIN Kembangkan Biopestisida Berbasis Minyak Atsiri

BRIN Kembangkan Biopestisida Berbasis Minyak Atsiri

21 Agustus 2026

PERKEBUNAN INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biopestisida berbasis bahan alami dari minyak atsiri untuk...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Salim Invomas Catat Kenaikan Produksi TBS dan CPO

Plt Dirjen Perkebunan: Peningkatan Produktivitas Tidak Selalu Buka Lahan Baru

23 September 2026
Menkeu Kantongi 10 Perusahaan Sawit Lakukan Manipulasi Harga

Menkeu Kantongi 10 Perusahaan Sawit Lakukan Manipulasi Harga

22 Mei 2026
Perkebunan Indonesia

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.

  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Sawit dan Palma
  • Agribisnis
  • Market
  • Headline
  • Info Kebun
  • Teknologi
  • Regulasi
  • Etalase
  • Opini

© 2025 Perkebunan Indonesia - Referensi dan Informasi Perkebunan Indonesia.