PERKEBUNAN INDONESIA – Kehadiran industri pengolahan kelapa telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Demikian diungkapkan Menurut Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat mengajak Duta Besar Tiongkok di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, beberapa waktu lalu.
“Dengan adanya industri, permintaan terhadap kelapa meningkat sehingga harga di tingkat petani naik berkali-kali lipat,” ujar Mentrans Iftitah dikutip Minggu (7/6/2026).
Mentrans menyebutkan, jika sebelumnya harga kelapa di tingkat petani hanya berkisar Rp500 hingga Rp700 per butir, kini meningkat menjadi Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan dari industri.
Menurut Mentrans, selain meningkatkan nilai ekonomi komoditas, industri kelapa juga menjadi sumber penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja yang bekerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal.
Selain itu, kata Ifititah, industri kelapa juga membuka lapangan kerja yang luas. Hampir 85 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal dengan pendapatan yang berada di atas UMR.
Mentrans juga mengatakan, kawasan transmigrasi saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai lokasi produksi komoditas primer, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Iftitah menjelaskan, hasil komunikasi dan kunjungan sebelumnya ke Tiongkok, kebutuhan kelapa di negara tersebut mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun, sementara produksi domestiknya hanya sekitar 1 miliar butir.
Iftitah menyebutkan, kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir.
“Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara,” ungkap Ifititah.
Kementerian Transmigrasi mengajak Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong secara langsung meninjau industri dan hilirisasi kelapa yang telah berkembang di kawasan transmigrasi yang ada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
Hal ini juga membuka peluang penguatan kerja sama perdagangan dan investasi, seiring tingginya kebutuhan pasar global, khususnya Tiongkok, terhadap komoditas kelapa dan produk turunannya.
Kunjungan ini dilakukan untuk mendorong transformasi transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi unggulan daerah.
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong mengungkapkan, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dan menjadi pemasok utama kebutuhan kelapa di Tiongkok.
Menurut Dubes Wang, Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen kelapa dunia. Tiongkok masih sangat bergantung pada impor kelapa dari luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama.
“Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga pengembangan industri pengolahan dan investasi,” ujar Dubes Wang Lutong.
Dirinya menambahkan bahwa hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari makanan, minuman, kosmetik hingga bahan bangunan.
Selain itu, pemerintah juga melihat potensi hilirisasi alanjutan dari berbagai bagian kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk serabut kelapa yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan maupun produk industri lainnya.
“Kami yakin ekosistem ekonomi baru yang tumbuh di kawasan transmigrasi Poliwangi dan sekitarnya akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat. Fokus kami adalah menghadirkan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penguatan industri dan hilirisasi berbasis potensi daerah,” pungkas Menteri Iftitah. (fad)




