PERKEBUNAN INDONESIA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) tetapkan harga referensi (HR) biji kakao periode periode Juni 2026 ditetapkan sebesar USD 3.832,17 per MT atau naik USD 563,48 (17,24 persen) dari periode sebelumnya.
Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tommy Andana, kenaikan harga referensi biji kakao karena masih ditutupnya Selat Hormuz sehingga biaya distrbusi ikut naik.
“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar,” ungkap Tommy dalam keterangannya dikutip Sabtu (30/5/2026).
Selain itu, kata Tommy, kenaikan harga referensi biji kakao pada Juni ini juga adanya penurunan suplai dari Nigeria sehingga ikut mendorong kenaikan HR dan HPE biji kakao.
Kenaikan ini, lanjut Tommy, berdampak pada Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao periode Juni 2026 menjadi USD 3.511 per MT, naik USD 549 atau 18,53 persen dari periode sebelumnya.
Sistem informasi Pasar Produk Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, harga biji kakao di beberapa sentra utama produksi utama di seluruh Indonesia pada April – Mei 2026 ada kenaikan.
Di Kabupaten Pidie (Aceh), harga biji kakao non fermentasi pada Mei 2026 mencapai Rp 44.560 per kilogram (kg) atau naik dibanding April sebesar Rp 35.500/kg.
Hal sama juga di Kabupaten Serdang Bedagai (Sumatera Utara). Pada Mei harga kakao non fermentasi tercatat Rp 48.070/kg, sementara pada April sebesar Rp 36.970/kg.
Di Lampung Barat (Lampung) harga kakao non fermentasi Mei 2026 tercatat Rp 47.975/kg, sedangkan pada April sebesar Rp 35.650/kg.
Sedangkan harga biji kakao di di Kabupaten Kulon Progo (DIY) justru turun tipis dari Rp 40.300/kg pada April 2026 menjadi Rp 40.000/kg pada Mei 2026. Di Kabupaten Tabanan (Bali) harga biji kakao malah naik dari Rp 39.670/kg pada April 2026 menjadi Rp 50.760/kg pada Mei 2026.
Demikian juga di Kabupaten Ngada (NTT) yang juga naik dari Rp 42.485/kg pada April 2026 menjadi Rp 56.960/kg pada Mei 2026. Kenaikan yang sama juga berlaku di Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan) dari Rp 43.455/kg pada April menjadi Rp 53.680/kg pada Mei 2026. (far)




